BORNEONEWS, Sampit - Masyarakat Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur aramai-ramai menceburkan diri ke Sungai Mentaya dalam rangka tradisi tahunan yakni Mandi Syafar yang digelar pemerintah daerah. Dari tahun ke tahun mandi syafar semakin ramai, bukan hanya diikuti warga Kotim, tetapi juga warga dari kabupaten tetangga, yakni Kabupaten Katingan dan Seruyan.

“Ahamdulillah dari tahun ke tahun antusiasme masyarakat sangat tinggi ini mengikuti mandi syafar. Ini berarti Disbudpar berhasil mempromosikan dan menyelenggarakan tradisi ini,” kata Bupati Kotim Supian Hadi usai mengikuti Mandi Syafar di Sungai Mentaya, Rabu (30/11/2016).

Mandi Syafar adalah tradisi lama yang hingga kini masih dilestarikan masyarakat Kotim. Tradisi ini dilaksanakan tiap hari Rabu terakhir di bulan Safar yakni dengan mandi bercebur ke Sungai Mentaya.

Mandi dengan bercebur ke sungai mengandung filosofi membersihkan diri dari hal-hal negatif sehingga diharapkan bisa terhindar dari bala bencana dan kesialan seiring bersihnya badan usai mandi bercebur di Sungai Mentaya.

Tradisi yang tidak diketahui sejak kapan munculnya itu kini dikemas secara apik dan dijadikan event pariwisata Kotim yang sudah cukup dikenal secara nasional.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Mandi Syafar kembali dipusatkan di sekitar dermaga Habaring Hurung. Sejumlah unsur FKPD dan jajaran pemerintah daerah terlihat hadir dalam acara mandi Safar tersebut.

Masyarakat dari berbagai penjuru Kota Sampit tampak antusias hadir. Bahkan sebagian datang dari kawasan luar kota dengan berbekal pelampung atau ban dalam yang kemudian mereka gunakan untuk mandi di Sungai Mentaya.

Tidak ketinggalan Bupati Kotim Supian Hadi bersama wakil bupati M Taufiq Mukri juga tampak berbaur dengan warga menceburkan diri ke Sungai Mentaya. Sekitar 30 menit orang nomor satu di Kotim itu menikmati mandi bersama warga yang mengikuti mandi Syafar. Mulai dari ibu-ibu, remaja hingga anak-anak antusias mengikuti tradisi yang terus dilestarikan pemerintah daerah tersebut.

“Mungkin tahun selanjutnya ada peningkatan dan kejutan-kejuatan lagi karena seperti pada tahun ini ada mandi air yang diambil dari tujuh sungai besar di Kalimantan Tengah,” kata Supian.

Supian berharap, event tahunan ini bisa didokumentasikan dengan baik oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk dipromosikan kepada wisatawan. Ritual ini diyakini akan mampu menarik wisatawan berkunjung ke Kotim. (RAFIUDIN/m)