BORNEONEWS, Sampit – Di hamparan kebun di Jalan Jenderal Sudirman Km 10 Sampit, seorang pria memakai caping nampak sibuk memilah dan menggunting tangkai buah melon di bawah terik matahari. Tangannya sesekali meraba buah yang matang di pohon tersebut. Seolah memastikan rasanya sudah manis untuk pengunjung wisata petik melon yang mulai ia kembangkan di lahan kebunnya itu.
Pria itu bernama Agus Toyan. Ia tak tumbuh sebagai petani sejak awal. Ia pernah menjadi mekanik motor, hidup dengan gemerincing kunci dan bau oli. Namun tahun 2014 menjadi titik balik. Sang bapak yang menggeluti pertanian di Sampit mulai menua dan kembali ke kampung halaman di Pulau Jawa.
Sejak saat itu, Agus Toyan bersama istrinya tetap menetap di Sampit dan memutuskan meneruskan jejak bertani sang bapak. Meski terpisah jarak seluas lebih dari Laut Jawa, hal itu tak menyurutkannya menggali ilmu pertanian dari bapaknya.
"Bapak sudah mulai tua, jadi kami meneruskan tetapi secara otodidak. Bapak di Jawa saya ada di sini jadi belajarnya melalui komunikasi saja. Semakin lama menekuni berlanjut sampai sekarang," kata Agus Toyan, Sabtu, 13 Desember 2025.
Sejak awal mulai menggeluti pertanian, Agus Toyan telah menjatuhkan hati untuk menekuni menanam melon. Meski tetap diselingi tanaman lain seperti cabai, jagung, terong, dan tomat.
Pada masa-masa awal bertani, Agus Toyan hanya menjual hasil panen melonnya ke pengepul. Buah-buah itu dikirim hingga ke Pangkalan Bun dan Palangka Raya. Namun seiring waktu, kualitas melon yang konsisten manis membuat para pengepul justru datang langsung ke kebunnya.
Perubahan besar terjadi pada musim panen Juni 2025. Istrinya memiliki ide mengundang selebgram lokal untuk memperkenalkan kebun melon mereka kepada masyarakat luas. Tujuannya sederhana, memberi tahu bahwa di Sampit ada petani melon dengan rasa buah yang benar-benar manis.
Selain membeli buah, pengunjung juga diberi kesempatan merasakan pengalaman memetik melon langsung dari pohonnya. Sensasi inilah yang kemudian menjadi daya tarik utama wisata petik melon tersebut.
Agus mengaku sempat ragu dengan ide promosi tersebut. Namun keraguan itu terjawab cepat. Wisata petik melon justru meledak dan diserbu pengunjung.
Ia mengingat betul, pada pembukaan pertama di bulan Juni 2025, kebunnya ramai hampir tanpa jeda. Selama sekitar 10 hari, melon habis terjual, bahkan ketika stok sudah menipis masih ada pengunjung yang datang.
Hingga kini, wisata petik melon tersebut sudah berjalan pada tiga musim panen, yakni Juni, September, dan Desember 2025. Dari waktu ke waktu, pengunjungnya semakin beragam. Tidak hanya warga Sampit, tetapi juga datang dari kecamatan lain seperti Parenggean, Sebabi, Pundu, hingga pelanggan luar daerah yang memesan lewat jasa titip ke Pangkalan Bun dan pengunjung yang sengaja membeli oleh-oleh untuk keluarga di Palangka Raya.
Ia menjelaskan, inisiatif membuka wisata petik melon berangkat dari kegelisahan melihat minimnya pilihan wisata di Sampit. Dirinya dan istrinya pun memberanikan diri melakukan gebrakan wisata di kebun, yang ternyata mendapat respons luar biasa dari masyarakat.
Pada hari biasa, pengunjung tidak terlalu ramai. Namun saat akhir pekan pengunjung membludak terutama saat sore hari. Bahkan, kebunnya sempat menjadi lokasi outing class salah satu sekolah di Sampit.
Meski begitu, wisata petik melon tidak dibuka setiap hari. Kebun hanya dibuka saat musim panen, sehingga para penikmatnya harus sabar menunggu. Sebab proses penanaman melon membutuhkan waktu sekitar dua bulan. Dimulai dari penyemaian bibit selama 7 hingga 10 hari, lalu masa tanam 55 hingga 60 hari. Hal itu karena dirinya menerapkan sistem tanam serempak. Menurutnya, jika tanam seling penyakit tanaman akan menular ke tanaman yang belum tua.
Ketika musim panen tiba, masyarakat yang ingin berkunjung pun harus sigap meluangkan waktu. Pasalnya, stok melon biasanya ludes dalam waktu maksimal 10 hari sejak hari pertama panen. Bahkan saat borneonews.co.id menyambangi kebun tersebut pada hari ketujuh panen, Jumat pagi, 12 Desember 2025, sore harinya seluruh melon telah habis terjual.
Karena itu, calon pengunjung disarankan memantau akun Instagram milik istri Agus, @aprilysaputri, untuk mengetahui jadwal dibukanya kembali wisata petik melon.
Lebih lanjut, Agus menjelaskan, dirinya menanam dua jenis melon yaitu jenis lokal dan impor. Salah satu jenis impor yang menjadi tantangan adalah melon intanon atau melon madu. Varietas ini sejatinya lebih ideal ditanam di greenhouse karena membutuhkan perlakuan khusus, namun Agus masih menanamnya di lahan terbuka.
"Yang impor itu seperti jenis intanon melon madu yang sulit sekali perawatannya. Tetapi kita berhasil panen meski di lahan terbuka," tambahnya.
Harga melon dibedakan berdasarkan jenisnya. Melon lokal dijual dengan harga Rp15 ribu per kilogram, sementara melon intanon dibanderol Rp35 ribu per kilogram. Dalam sehari, penjualan rata-rata mencapai 2 hingga 3 pikul atau sekitar 2–3 kuintal. Bahkan pada salah satu hari Minggu, omzet penjualan menembus lebih dari Rp10 juta dengan total penjualan sekitar 6,7 kuintal.
Agus mengungkapkan, tantangan terbesar dalam bertani melon adalah faktor cuaca. Setiap varietas memiliki karakter berbeda, terutama melon eksklusif seperti intanon. Meski demikian, ia bersyukur masih bisa memanen dengan hasil yang memuaskan.
Dari sisi pemasaran, wisata petik melon dinilai jauh lebih menguntungkan dibandingkan menjual ke pengepul. Pengunjung merasa puas karena dapat memetik langsung buah dari pohon, sementara kualitas buah yang terjaga membuat kepercayaan pasar semakin kuat. Selain peminat wisata, pengepul pun juga bisa langsung datang ke kebun mencicipi manisnya melon untuk menjamin kualitas buah yang akan dipasarkan kembali.
Agus menegaskan, dirinya menjamin kualitas rasa di kebun miliknya. Sebab wisata petik melon hanya dibuka ketika kualitas buah benar-benar siap. Menurutnya, membuka kebun untuk wisata berarti kesiapan mempertanggungjawabkan rasa dan kualitas kepada masyarakat.
Ke depan dirinya berencana terus mengembangkan pertanian. Dirinya akan menganalisa minat masyarakat terhadap wisata pertanian untuk jangka panjang. Jika memungkinkan, salah satu rencananya ialah membangun green house atau rumah kaca.
"Itu (membangun green house) jika ada rezeki sedikit-sedikit. Sementara kita di lahan terbuka dulu, melihat kondisi seperti apa. Jika masyarakat berminat, kita akan kembangkan lagi untuk memperluas lahan. Semoga ke depan masyarakat lebih antusias untuk datang ke tempat kita untuk wisata petik buah melon," ujarnya.
Berangkat dari perjalanan hidupnya yang semula jauh dari dunia pertanian hingga akhirnya menekuninya sejak 2014, Agus kini tak hanya memikirkan hasil kebun. Di usianya saat ini, ia juga menaruh perhatian pada generasi muda yang semakin menjauh dari pertanian. Karena itu, ia berupaya mengajak dan menyentuh hati para pemuda agar kembali melirik bertani.
Menurutnya, pertanian menyimpan banyak peluang, sebab seorang petani tetap bisa menjalani pekerjaan lain sembari menunggu hasil dari kebun yang ditanam dengan penuh kesabaran.
"Cobalah menjadi petani milenial karena menjadi petani itu enak. Sembari bertani, kita bisa bekerja hal lain. Jadi di rumah dapat untung, juga bisa ditinggal. Apalagi jika petani milenial bisa membuat green house," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/H)









