BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Bagi Nopiar Rahman yang akrab disapa Kak Nono, perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku. Perpustakaan adalah ruang harapan—tempat ide tumbuh, mimpi dirawat, dan masa depan disemai. Dari sanalah ia menapaki jalan pengabdian sebagai pustakawan sekolah, penulis, dan penggerak literasi.
Sebagai Kepala Perpustakaan SMP Tunas Agro, Kak Nono dikenal kreatif dan konsisten menghidupkan perpustakaan sekolah. Ia percaya bahwa literasi akan tumbuh jika perpustakaan hadir secara ramah, menyenangkan, dan dekat dengan dunia anak-anak. Rak buku disulap menjadi ruang dialog, kegiatan membaca menjadi pengalaman bermakna, dan perpustakaan menjadi jantung kehidupan sekolah.
Perjalanan prestasinya dimulai sejak tahun 2017, ketika ia meraih Juara 1 Tenaga Kependidikan Perpustakaan Sekolah. Setahun kemudian, 2018, Kak Nono dinobatkan sebagai Juara 1 Pustakawan Berprestasi Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah. Konsistensi dan ketekunannya membawanya ke panggung nasional pada tahun 2022, saat tulisannya terpilih sebagai Call for Paper Terbaik Tingkat Nasional dan dipresentasikan di Konferensi Perpustakaan Sekolah Indonesia di Yogyakarta.
Di bawah pengelolaannya, Perpustakaan SMP Tunas Agro menunjukkan lompatan prestasi: Juara 2 tingkat provinsi pada 2023, kemudian meningkat menjadi Juara 1 tingkat Provinsi Kalimantan Tengah pada 2024. Pada tahun yang sama, tulisan ilmiahnya juga menembus Jurnal Buletin Perpustakaan Universitas Islam Indonesia (UII)—sebuah capaian yang mempertemukan praktik lapangan dengan dunia akademik.
Puncak pengakuan datang pada tahun 2025. Kak Nono meraih Terbaik 3 Tenaga Perpustakaan Sekolah dalam ajang Apresiasi GTK Hebat 2025, sekaligus dinobatkan sebagai Kepala Perpustakaan Sekolah dan Madrasah Terbaik Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah dalam Festival Literasi Kalimantan Tengah 2025 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah.
Pada tahun yang sama, ia juga lolos seleksi nasional sebagai Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Relima merupakan program nasional dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas) yang melibatkan para sukarelawan literasi untuk menggerakkan dan meningkatkan budaya baca serta kecakapan literasi di berbagai lapisan masyarakat Indonesia.
"Melalui program ini saya terlibat dalam pendampingan perpustakaan desa, taman bacaan masyarakat (TBM), advokasi serta berbagai kegiatan edukasi literasi yang menyentuh langsung masyarakat," katanya, Minggu, 14 Desember 2025.
Selain aktif mengelola perpustakaan, Kak Nono juga menaruh cinta besar pada dunia menulis. Ia telah menulis 13 buku antologi dan 2 buku solo salah satu karya solonya berjudul Namamu Tertulis di Lauhul Mahfuz, sebuah buku reflektif dan penuh cinta yang dipersembahkan untuk istrinya tercinta —menunjukkan bahwa literasi juga tumbuh dari ruang personal yang tulus.
Sejak tahun 2020 Kak Nono aktif menginisiasi berbagai kegiatan literasi dan kepustakawanan berbasis daring melalui Zoom Cloud Meeting dengan sponsor link zoom dari para pelaku dunia usaha /csr terdekat. Dari ruang virtual inilah ia mempertemukan pustakawan sekolah, pengelola TBM, dan komunitas literasi dari berbagai daerah di tanah air berbagi praktik baik, saling menguatkan, dan terus bergerak bersama.
Di dunia organisasi profesi, ia dikenal aktif sebagai Wakil Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Kabupaten Seruyan, pernah menjadi pengurus IPI Kalimantan Tengah, serta terlibat dalam ATPUSI Seruyan, FPSMI dan Forum Perpustakaan Sekolah Kabupaten Seruyan. Ia juga mengabdi sebagai Ketua TBM Grup Literasi Gawi Hatantiring Seruyan dan Sekretaris PW Forum TBM Kalimantan Tengah
Kisah Kak Nono membuktikan bahwa perubahan besar bisa lahir dari ruang yang sederhana. Dari perpustakaan sekolah, dari buku-buku yang dibaca dengan cinta, dan dari kerja sunyi yang dijalani dengan konsistensi, ia terus menyalakan api literasi—agar tetap hidup, bergerak, dan memberi makna bagi Indonesia. (*/j)









