BORNEONEWS, Surakarta - Barisan pintu berbahan kayu yang di-cat berwarna biru akan mengantarkan kita memasuki jantung Kasunanan Surakarta di Kota Solo, Jawa Tengah. Udara sejuk, sambutan hangat, suasana hening, seperti memaksa untuk kembali pada era kerajaan di Pulau Jawa.
Borneonews satu-satunya media di Kalimantan Tengah, yang baru-baru ini mendapat undangan dari Pemerintah Kota Solo untuk menyusuri sejumlah objek wisata di sana tak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan. Karena kota ini ada diawali pecahnya Kesultanan Mataram Islam di Jogjakarta pada 1643, maka pada kesempatan pertama yang dikunjungi adalah komplek Kasunanan Surakarta.
Sebelum memasuki areal keraton, pengunjung terlebih dahulu disambut tembok yang dahulunya merupakan benteng dan pembatas Kerajaan Surakarta. Meski usianya hampir 300 tahun, namun tembok itu masih terlihat kokoh.
Wisatawan dapat memasuki areal keraton melalui pintu di sebelah timur, dengan terlebih dahulu membayar tiket Rp10.000. Seorang abdi dalem dengan tarif Rp30.000 akan mengantarkan kita masuk serta menceritakan banyak hal yang ada di dalam komplek keraton.
Sejumlah bangunan dengan mayoritas dicat putih untuk dinding dan biru untuk tiang dan pintu, Keraton Kasunaan Surakarta memiliki arsitektur bergaya Eropa, namun tetap mengedepankan khas Jawa. Hal itu terlihat dari motif tiang-tiang bangunan dan lampu-lampu.
Memasuki areal utama yakni pelataran keraton setelah melewati sebuah pintu besar yang disebut Kori Sri Manganti Kidul, kita akan disambut barisan pohon sawo kecik. Yang menarik adalah, pohon tersebut memiliki jumlah 76 batang yang merupakan ramalan tentang Indonesia ke depan.
Bukan hanya itu, sebelum sampai ke bangunan utama yang sangat megah, kita terlebih dahulu harus melalui hamparan pasir pantai selatan bercampur kawah gunung berapi. Hamparan ini dipercaya dapat menyembuhkan penyakit reumatik dan asam urat.
Sebelah utara Pelataran Kedhaton terdapat bangunan berupa menara tinggi yang disebut Panggung Songgo Buwono. Menara setinggi 20 meter ini berbentuk segi delapan dengan tutup saji di atasnya.
Dibangun oleh Sri Susuhunan Paku Buwono III (1749-1788) sebagai tempat meditasi raja dengan (mitos) Ratu Kidul. Namun fungsi utama menara ini yaitu sebagai tempat mengintai gerak-gerik Pemerintah Kolonial Belanda yang berpusat di Benteng Vastenburg dan sekitarnya.
Jika beruntung, di dalam keraton kita dapat bertemu dengan keturunan raja seperti Pelaksana Tugas Pakubuono XIII, KGPH Puger yang sekaligus pimpinan perpustakaan keraton. (RONI SAHALA/m)








