BORNEONEWS, Sampit – Keberadaan perusahaan besar swasta (PBS) sektor perkebunan kelapa sawit di Desa Palangan, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dinilai memberikan dampak positif bagi perekonomian dan pembangunan masyarakat setempat.
“Hadirnya perusahaan membuat masyarakat memiliki akses pekerjaan dan peluang usaha baru, yang secara kolektif meningkatkan daya beli. Dampaknya juga terlihat pada peningkatan fasilitas sosial, seperti fasilitas kesehatan, pendidikan, hingga sarana ibadah melalui program CSR,” kata Kepala Desa Palangan, Anastasius Delik, Senin, 15 Desember 2025.
Di wilayah Desa Palangan saat ini terdapat beberapa perusahaan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi, di antaranya PT NSP, PT MAP, dan PT SSM.
Peran perusahaan sawit di desa tersebut sangat dirasakan masyarakat dari berbagai aspek. Salah satunya adalah penciptaan lapangan kerja, baik secara langsung sebagai karyawan maupun tidak langsung melalui usaha pendukung.
Selain itu, perusahaan juga berkontribusi sebagai penggerak ekonomi lokal melalui penggunaan jasa dan produk masyarakat, serta pembayaran pajak yang berdampak pada perputaran ekonomi desa.
“Perusahaan juga ikut berperan dalam pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan, gorong-gorong, fasilitas air bersih, hingga dukungan listrik PLN,” jelasnya.
Tak kalah penting, melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), perusahaan turut membantu peningkatan kualitas hidup masyarakat di bidang pendidikan, keagamaan, kesehatan, serta bantuan sosial dan kebencanaan. Transfer pengetahuan dan keterampilan melalui pelatihan kerja juga dinilai mampu meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) lokal.
Meski membawa banyak manfaat, aktivitas perusahaan sawit juga berpotensi menimbulkan dampak sosial dan lingkungan. Dampak positif yang dirasakan antara lain peningkatan kesejahteraan ekonomi, peningkatan fasilitas sosial, serta peluang peningkatan keterampilan masyarakat melalui pelatihan.
Namun demikian, Anastasius mengingatkan adanya potensi dampak negatif yang perlu diantisipasi bersama, seperti risiko kerusakan lingkungan, perubahan struktur sosial akibat masuknya pendatang, ketimpangan sosial, hingga gangguan ekosistem.
Pemerintah desa berharap kehadiran perusahaan sawit dapat terus memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat. Beberapa langkah yang dinilai penting antara lain membangun keterbukaan dan komunikasi dua arah antara perusahaan dan masyarakat, serta transparansi dalam perekrutan tenaga kerja dan pelaksanaan CSR.
“Kami juga berharap perusahaan memprioritaskan tenaga kerja lokal dan mengembangkan kemitraan UMKM agar ekonomi masyarakat tumbuh secara berkelanjutan,” tambahnya.
Selain itu, perusahaan diharapkan menerapkan standar perlindungan lingkungan yang ketat serta menjalankan program restorasi lingkungan, seperti penghijauan dan konservasi sumber air. Program CSR pun diharapkan lebih tepat sasaran dengan melibatkan masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaannya.
"Terpenting adalah mengubah CSR dari sekadar sumbangan menjadi investasi sosial yang berfokus pada kebutuhan kritis masyarakat, misalnya pendidikan vokasi atau pengembangan infrastruktur, dan pemberdayaan masyarakat yang ada di kelompok tani atau UMKM," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/H)









