PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun – PT Pelindo Terminal Petikemas optimistis arus peti kemas nasional pada 2025 dapat mencapai 13,13 juta TEUs atau tumbuh sekitar lima persen dibandingkan realisasi 2024 sebesar 12,48 juta TEUs, seiring meningkatnya kinerja sejumlah terminal, termasuk TPK Bumiharjo di Kalimantan Tengah.

Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, mengatakan proyeksi tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan target arus peti kemas tahun 2025 yang ditetapkan perseroan sebesar 12,95 juta TEUs.

“Target arus peti kemas tahun 2025 sangat mungkin tercapai dan bahkan cenderung meningkat. Perseroan memprediksi pertumbuhan sekitar lima persen dibandingkan realisasi 2024,” ujar Widyaswendra di Surabaya, Selasa, 16 Desember 2025.

Hingga periode Januari–November 2025, arus peti kemas di seluruh terminal yang dikelola Pelindo Terminal Petikemas tercatat telah mencapai 12,12 juta TEUs.

Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan kinerja di sejumlah terminal peti kemas di berbagai wilayah. Salah satunya terjadi di TPK Pantoloan, Sulawesi Tengah, yang mencatat kenaikan signifikan pada komoditas kelapa sebesar 52 persen pada triwulan III-2025.

Di Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, TPK Bumiharjo juga menunjukkan kinerja positif yang ditopang oleh peningkatan ekspor komoditas plywood ke Korea dan Tiongkok, sehingga berkontribusi terhadap pertumbuhan arus peti kemas perseroan.

Sementara itu, TPK Teluk Bayur, Sumatra Barat, mencatat pertumbuhan komoditas karet sebesar 20 persen, perlite 45 persen, serta pakan ternak yang meningkat lebih dari 100 persen.

Selain peningkatan volume komoditas, pertumbuhan arus peti kemas juga dipengaruhi oleh bertambahnya kunjungan kapal dan rute layanan. Di Terminal Teluk Lamong, misalnya, tercatat sedikitnya 26 kunjungan kapal sepanjang Januari hingga September 2025.

“Pertumbuhan yang cukup besar juga terjadi di TPK Semarang seiring meningkatnya aktivitas industri di sejumlah kawasan, seperti Kawasan Industri Kendal, Kawasan Industri Sayung, dan Kawasan Industri Batang,” kata Widyaswendra.