JAKARTA –

BORNEONEWS, Tangerang – Gaya hidup yang tidak sehat, kurang tidur, hingga stres berkepanjangan dapat memicu kondisi serius pada pria berupa azoospermia atau yang lebih dikenal sebagai sperma kosong. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab utama infertilitas pria dan kerap tidak disadari sejak awal.

Dokter Spesialis Andrologi Eka Hospital Grand Family PIK, Christian Christoper Sunnu, menjelaskan bahwa sperma kosong adalah kondisi medis ketika tidak ditemukan satu pun sperma dalam cairan mani pria. 

“Penyebab sperma kosong sangat beragam, mulai dari faktor lingkungan seperti gaya hidup tak teratur, stres, kurang tidur, hingga kondisi medis tertentu,” kata Sunnu, Rabu, 17 Desember 2025.

Ia menyebutkan sejumlah faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya sperma kosong, antara lain polusi udara, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, makanan tinggi gula dan pengawet, gangguan hormon, hingga infeksi.

Secara kasat mata, sperma kosong dapat terlihat dari air mani yang tampak encer dan bening seperti air. Kondisi ini menyumbang sekitar 20 persen kasus infertilitas pria di dunia.

Di Indonesia sendiri, diperkirakan 4–6 juta pasangan usia subur mengalami infertilitas, dan sekitar 30 persen di antaranya disebabkan oleh faktor pria. Bahkan secara global, jumlah sperma pria dilaporkan menurun lebih dari 50 persen dalam 50 tahun terakhir.

Dua Jenis Sperma Kosong

Sunnu menjelaskan bahwa sperma kosong terbagi dalam dua tipe utama.

Pertama, azoospermia obstruktif, yaitu sperma tidak dapat keluar karena adanya sumbatan pada saluran reproduksi. Kondisi ini dapat disebabkan oleh infeksi lama, trauma berat pada area testis, atau faktor genetik. Risiko juga meningkat pada pria dengan riwayat hubungan seksual berganti-ganti pasangan tanpa pengaman.

Kedua, azoospermia non-obstruktif, yang terjadi akibat gangguan produksi sperma. Penyebabnya meliputi gaya hidup tidak sehat, kebiasaan merokok, konsumsi makanan ultra processed, gangguan hormon akibat penggunaan obat atau suntik hormon sembarangan, infeksi seperti gondongan atau COVID-19, hingga kondisi varikokel. 

“Kedua tipe sperma kosong ini sangat sulit disembuhkan. Hingga kini belum ada terapi yang bisa mengembalikan jumlah sperma dari nol menjadi normal sepenuhnya,” ujarnya.

Peluang dan Harapan Pengobatan

Pada beberapa kasus azoospermia non-obstruktif, terapi hormon atau stem cell dapat membantu meringankan kondisi, meski hasilnya tidak bisa dijamin sepenuhnya.

Karena keterbatasan pengobatan, banyak pasangan dengan kasus sperma kosong akhirnya harus menempuh program bayi tabung atau In Vitro Fertilization (IVF) untuk mendapatkan keturunan.

Meski demikian, Sunnu menyebut dunia medis masih terus berkembang dan membuka harapan di masa depan akan adanya terapi yang mampu memulihkan kesuburan pria secara optimal.

Pentingnya Deteksi dan Pencegahan Dini

Sunnu menekankan pentingnya menjaga kesehatan buah zakar sejak usia dini, karena organ tersebut berperan vital dalam produksi sperma. 

“Sekali rusak, sangat sulit mengembalikan fungsi buah zakar seperti semula. Karena itu, jangan menunggu menikah baru mulai peduli kesehatan reproduksi,” katanya.

Ia mengingatkan pria untuk menerapkan pola hidup sehat, menghindari rokok dan alkohol, menjaga pola tidur, mengelola stres, serta melakukan pemeriksaan medis secara berkala sebagai langkah pencegahan infertilitas.

ANTARA