BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus menggenjot produktivitas sektor perikanan budidaya melalui berbagai kegiatan pendampingan dan pelatihan teknis di tingkat desa.
Jabatan Fungsional Pengelola Kesehatan Ikan Ahli Muda Dinas Perikanan Kotim, Fahrul Jainal Ilmi, menyatakan bahwa pendampingan tersebut bertujuan sebagai media pembelajaran agar para pembudidaya memahami praktik budidaya ikan yang baik dan berkelanjutan.
“Dalam usaha budidaya ikan terdapat banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan, mulai dari pengelolaan kualitas air, manajemen pakan, penggunaan bibit unggul, hingga kapasitas sumber daya pelaku usaha budidaya,” ungkap Fahrul, Jumat, 19 Desember 2025.
Salah satu program terbaru dilaksanakan oleh Dinas Perikanan Kotim di Desa Karang Tunggal, Kecamatan Parenggean, Selasa (16/12), yang menyasar kelompok pembudidaya ikan (pokdakan) dengan fokus pada teknik budidaya ikan sistem bioflok, pengelolaan kualitas air, serta penanganan penyakit ikan.
Ia menambahkan, hasil laporan dari sejumlah pokdakan di Kotim mengindikasikan bahwa kendala utama yang sering dihadapi adalah pengelolaan kualitas air yang belum optimal. Kondisi ini berdampak negatif terhadap kelangsungan hidup ikan dan hasil panen.
“Hasil pendataan kami menunjukkan masih banyak pembudidaya yang minim pengetahuan terkait teknologi bioflok, penanganan penyakit ikan, serta manajemen kualitas air,” terang Fahrul.
Lebih lanjut, dia menjelaskan tantangan pengembangan perikanan budidaya di Kalimantan yang juga dipengaruhi oleh karakteristik air cenderung asam, sehingga pH air yang rendah dapat menghambat pertumbuhan ikan jika tidak dikelola dengan baik.
Melalui pendampingan ini, pembudidaya diberikan pemahaman teknis budidaya di berbagai jenis kolam mulai dari kolam tanah, terpal, hingga kolam semen. Selain itu, peserta dilatih untuk menerapkan teknologi bioflok sebagai sistem budidaya yang efisien, ramah lingkungan, sekaligus meningkatkan produktivitas.
“Kami juga fokus meningkatkan kemampuan pembudidaya dalam mendeteksi dan menangani penyakit ikan serta memahami manajemen kualitas air secara tepat,” ujarnya.
Selain aspek teknis, kegiatan ini juga diarahkan untuk memperkuat kelembagaan pokdakan agar memiliki badan hukum, sehingga lebih mandiri dan mudah mengakses program pendukung pemerintah.
Fahrul mengharapkan melalui pendampingan dan kemudahan akses ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi, pembudidaya ikan di Kecamatan Parenggean dapat meningkatkan kompetensi, efisiensi usaha, dan mendorong peningkatan produksi perikanan budidaya secara berkelanjutan.(DEVIANA/y)









