BORNEONEWS - Seorang wali kelas di Kisaran, Sumatera Utara pada Sabtu, 20 Desember 2025 telah membuat postingan terkait masalah perangkingan dalam konteks Kurikulum Merdeka.
Ia memberikan penjelasan mengapa rangking di sekolah tidak lagi menjadi prioritas. Sontak saja, postingannya telah dibanjiri ragam komentar.
Pro Kontra
Polemik mengenai pengumuman peringkat atau ranking juara kelas kembali mencuat di lingkungan pendidikan seiring penerapan Kurikulum Merdeka.
Kebijakan yang tidak menganjurkan penulisan ranking di rapor dinilai menimbulkan pro dan kontra di kalangan dewan guru, pemangku kepentingan pendidikan, hingga orang tua siswa.
Sebagian pendidik berpendapat bahwa dalam Kurikulum Merdeka, rapor seharusnya lebih menekankan pada proses belajar, perkembangan kompetensi, serta capaian individu murid, bukan sekadar angka dan peringkat.
Mereka menilai sistem perangkingan berpotensi memberi label negatif serta menimbulkan tekanan psikologis bagi siswa yang berada di peringkat bawah.
Namun, pandangan tersebut tidak sepenuhnya diterima oleh semua pihak. Sejumlah guru justru menyatakan tetap mendukung adanya perangkingan sebagai bentuk apresiasi terhadap kerja keras dan prestasi akademik siswa.
Menurut mereka, penghapusan ranking dikhawatirkan mengurangi semangat kompetisi sehat dan motivasi belajar, terutama bagi siswa yang selama ini berusaha meraih hasil terbaik.
Perdebatan juga muncul di kalangan orang tua murid. Sebagian orang tua menilai ranking masih dibutuhkan agar anak mengetahui posisi dan pencapaiannya selama proses pembelajaran.
Mereka beranggapan bahwa peringkat dapat menjadi pemacu semangat belajar dan indikator konkret atas usaha yang telah dilakukan anak di sekolah.
Di sisi lain, pemangku kepentingan pendidikan menekankan pentingnya perubahan paradigma penilaian.
Mereka menilai apresiasi terhadap murid tidak harus selalu diwujudkan dalam bentuk peringkat, melainkan melalui pengakuan atas kemajuan, karakter, dan bakat yang dimiliki setiap anak sesuai potensi masing-masing.
Meski berbeda pandangan, seluruh pihak sepakat bahwa setiap anak memiliki keunikan dan keistimewaan tersendiri.
Penghargaan terhadap prestasi akademik tetap dianggap penting, namun perlu diimbangi dengan penguatan karakter, sikap positif, serta semangat belajar yang berkelanjutan.
Polemik perangkingan ini pun menjadi bahan diskusi serius di berbagai sekolah dan forum pendidikan.
Diharapkan ke depan dapat ditemukan titik temu antara kebijakan kurikulum, profesionalisme guru, dan harapan orang tua, sehingga sistem penilaian mampu mendorong tumbuh kembang siswa secara utuh tanpa mengabaikan motivasi dan apresiasi atas prestasi. (SABRIANOOR/R)








