BORNEONEWS, Medan - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan gelombang laut setinggi 2,5 hingga 4 meter berpotensi terjadi di Samudera Hindia barat Kepulauan Nias, Sumatera Utara (Sumut), pada 24 hingga 26 Desember 2025.
"Kondisi tersebut harus diwaspadai karena dapat mengganggu pelayaran," kata Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Belawan Christen Ordain Novena Marpaung di Medan, Selasa.
Selain itu gelombang laut setinggi 1,25 hingga 2.5 meter juga berpotensi terjadi di perairan timur Kepulauan Nias, perairan barat Kepulauan Batu, dan perairan barat Kepulauan Nias.
Pola angin di wilayah Indonesia bagian utara, kata dia, umumnya bergerak dari utara hingga timur laut dengan kecepatan angin berkisar 6 - 30 knot. Sedangkan di wilayah Indonesia bagian selatan umumnya bergerak dari barat daya hingga barat laut dengan kecepatan angin berkisar 6 - 30 knot.
Ia menyebut kecepatan angin tertinggi terpantau di Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai hingga Lampung
Kondisi suhu muka laut yang hangat dapat meningkatkan potensi penguapan di pesisir barat Sumatera Utara dan Selat Malaka. Selanjutnya kombinasi antara gelombang atmosfer MJO (MaddenJulian Oscillation) spasial diprakirakan aktif di Samudra Hindia barat Aceh, Samudra Hindia barat Kepulauan Nias, Selat Malaka bagian utara, yang berkontribusi pada peningkatan pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut.
Ia menjelaskan belokan angin di Sumatera Utara karena adanya sirkulasi siklonik di Laut Cina Selatan sehingga memicu daerah perlambatan kecepatan angin mengakibatkan peningkatan curah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Dalam beberapa hari terakhir, kata dia, curah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat tercatat di ARG Tapanuli 75,6 mm. Kondisi atmosfer yang relatif labil turut menambah potensi pertumbuhan awan hujan di sebagian wilayah Sumatera Utara sehingga tetap perlu diwaspadai.
ANTARA









