BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Kotawaringin Barat, Dwi Agus Suhartono mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi masuknya ular ke lingkungan permukiman, terutama pada bulan Oktober, November, dan Desember.
“Berdasarkan pantauan kami di Damkar, pada bulan-bulan tersebut, potensi ular masuk ke lingkungan permukiman cukup besar karena pada periode ini ular biasanya mulai menyebar,” kata Dwi, Rabu, 24 Desember 2025.
Dwi menjelaskan penyebaran ular di akhir tahun berkaitan dengan siklus perkembangbiakan yang terjadi beberapa bulan sebelumnya.
“Biasanya ular bertelur pada bulan Maret dan April. Dalam sekali bertelur bisa puluhan, lalu setelah menetas dan sekitar 2 bulan kemudian, anak-anak ular itu mulai menyebar ke berbagai tempat, termasuk ke lingkungan rumah warga,” jelasnya.
Untuk pencegahan pihaknya mengimbau masyarakat memanfaatkan cara-cara sederhana yang aman.
“Pencegahan bisa menggunakan wewangian seperti pengharum lantai atau pengharum ruangan. Cairan pengharum lantai bisa disebarkan di sekeliling rumah karena ular tidak menyukai bau menyengat,” tuturnya.
Selain itu warga juga diminta memperhatikan faktor lingkungan yang dapat mengundang ular. “Waspadai jika ada tikus di rumah, karena tikus adalah salah satu makanan utama ular. Kalau sumber makanannya ada, ular bisa datang,” jelas Dwi Agus Suhartono.
Dwi juga meluruskan mitos yang berkembang di masyarakat terkait pencegahan ular. “Menggunakan garam itu hanya mitos, tidak terbukti efektif untuk mengusir ular,” tegasnya.
Dwi menjelaskan, menjaga kebersihan rumah menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko. “Cara pencegahan lainnya adalah menghindari adanya tumpukan barang di dalam rumah, karena itu bisa menjadi tempat persembunyian ular,” jelasnya.
Dwi juga memberikan imbauan mengenai sikap yang harus dilakukan jika berhadapan langsung dengan ular.
“Kalau bertemu ular, misalnya melintas di depan kita, sebaiknya jangan membuat gerakan agresif lantaran panik. Gerakan manusia justru bisa menimbulkan kewaspadaan pada satwa tersebut dan memicu reaksi berbahaya,” pungkasnya. (WAHYU KRIDA/r)









