PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Peluncuran 70 buku cerita anak dwibahasa Kalimantan Tengah-Indonesia yang digelar Balai Bahasa Kalteng pada Gelar Wicara di akhir Tahun 2025 ini mendapat apresiasi luas dari berbagai pihak. Acara ini menjadi momentum penting dalam upaya memperkuat literasi anak sekaligus melestarikan bahasa daerah di Kalimantan Tengah.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya, Jayani menyampaikan bahwa kehadiran buku-buku dengan muatan kedaerahan ini memberikan manfaat besar bagi ekosistem pendidikan.

“Bacaan yang mengandung muatan kedaerahan ini memberikan manfaat bagi anak, guru, dan orang tua untuk meningkatkan budaya membaca,” ujar Jayani dalam rilis Balai Bahasa Kalteng pada Rabu, 24 Desember 2025.

Menurut Jayani, buku cerita anak yang ditulis dalam bahasa Dayak Ngaju, Bakumpai, Maanyan, Katingan, Sampit, dan Melayu Kotawaringin akan memperkuat identitas budaya lokal.

“Anak-anak tidak hanya belajar membaca, tetapi juga mengenal bahasa leluhur yang menjadi bagian dari jati diri masyarakat Kalimantan Tengah,“ katanya.

Ia menambahkan, keterlibatan guru dan orang tua dalam mendampingi anak membaca buku dwibahasa ini akan menciptakan lingkungan literasi yang lebih hidup. Dengan demikian, budaya membaca tidak hanya tumbuh di sekolah, tetapi juga di rumah dan lingkungan sekitar.

Jayani menilai, peluncuran buku ini sejalan dengan program Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang mendorong peningkatan literasi anak melalui pendekatan STEM yakni Science, Technology, Engineering, dan Mathematics.

“Integrasi STEM dalam cerita anak akan membantu menumbuhkan pola pikir kritis dan kreatif sejak dini,“ jelasnya.

Dengan dukungan pemerintah daerah, Jayani berharap buku dwibahasa ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh sekolah-sekolah di Palangka Raya dan seluruh Kalimantan Tengah.

“Kami ingin anak-anak tumbuh sebagai generasi literat yang bangga dengan bahasa daerah sekaligus siap menghadapi tantangan global,” tuturnya lagi. (TESTI PRISCILLA/j)