SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Suasana Jalan Tjilik Riwut Km 2,5, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, tepat di seberang Apotek Kimia Farma, mendadak berubah riuh pada Kamis, 25 Desember 2025. Sebuah mobil bak terbuka berhenti, membawa muatan buah berduri dengan aroma tajam yang langsung menguar di udara. Belum seluruh durian diturunkan, sekelompok orang sudah lebih dulu mengerumuni lapak, seolah tak sabar menanti.

Di tepi jalan, seorang pria tampak sibuk mengayunkan tangan, memanggil para jemaah Haul Guru Sekumpul yang melintas agar singgah sejenak. Dialah M Fajar Zaini, pemilik lapak durian yang hari itu bukan sekadar berjualan. Ia memilih berbagi, menggratiskan durian bagi para jemaah yang tengah melakukan perjalanan menuju haul akbar di Martapura.

Sebuah spanduk sederhana terpampang jelas, menawarkan durian gratis untuk jemaah Haul Guru Sekumpul. Informasi itu pun cepat menyebar dari mulut ke mulut, dari grup WhatsApp hingga media sosial, membuat lapak kecil di pinggir jalan tersebut menjadi titik singgah penuh haru.

Bagi Intan Kumalasari, jemaah asal Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan, pengalaman ini menjadi kenangan yang sulit dilupakan. Ini adalah kali pertamanya mengikuti Haul Guru Sekumpul bersama keluarga. Di lapak itu, ia menitikkan air mata menyaksikan durian berjajar dan jemaah memilih sendiri untuk langsung disantap.

“Saya terharu sekali. Ini pertama kali mengikuti Haul Guru Sekumpul bersama keluarga. saya sampai mau menangis karena ada orang baik sekali memberikan durian gratis untuk jemaah. Padahal durian sedang mahal karena pertama musim. Tetapi mereka memberikan gratis untuk para jemaah,” ujar Intan.

Dirinya mengetahui lapak durian gratis ini dari grup WhatsApp majelis. Namun awalnya ia mengira hanya informasi bohong, rupanya saat melintas di Jalan Tjilik Riwut, nampak keramaian yang mengundangnya berhenti di lapak durian gratis.

Ia menjelaskan, sepanjang perjalanan menuju Martapura, baru pertama kali merasakan dahsyatnya suasana menyambut Haul Guru Sekumpul. Hingga banyak orang berlomba-lomba memfasilitasi jemaah melalui posko, bahkan secara pribadi memberikan durian suka rela.

"Kalau anak dan suami saya setiap tahun ke Haul Guru Sekumpul, tetapi saya baru pertama kali dan pertama kali merasakan suasana begitu Dahsyat padahal ini baru h-4," tambahnya. 

Haru serupa dirasakan Suriyati, jemaah dari Baamang Hulu, Sampit. Ia datang ke lapak tersebut bersama lima orang jemaah dari Mentaya Hulu setelah mengetahui kabar tersebut dari media sosial.

“Terima kasih banyak kepada bapak yang menyediakan durian gratis. Semoga rezekinya dilancarkan. Saya tiap tahun ikut haul Guru Sekumpul, tapi baru tahun ini menemukan durian gratis di Sampit. Kalau dulu biasanya hanya ada di Banjar,” katanya.

Di balik ramainya lapak durian itu, M Fajar Zaini menyimpan niat sederhana. Tahun ini, momen Haul Guru Sekumpul bertepatan dengan musim durian, sehingga ia tergerak untuk berbagi.

“Kita adakan durian gratis khusus untuk jemaah Haul Guru Sekumpul. Duriannya kami datangkan dari Pontianak. Ini murni niat pribadi, bukan karena paksaan,” ujarnya.

Tak hanya durian, Fajar juga menyediakan buah langsat dan rambutan. Rambutan, katanya, berasal dari relawan yang ikut tergerak membantu, sementara durian dan langsat ia datangkan sendiri.

Durian gratis untuk jemaah Haul Guru Sekumpul ini dilaksanakan selama tiga hari, mulai Rabu, 24 Desember 2025 hingga Jumat, 26 Desember 2025. Antusiasme jemaah pun di luar dugaan. Mereka datang dari berbagai daerah, mulai dari Seruyan, Pangkalan Bun, Pontianak, dan dari daerah sendiri Kotawaringin Timur.

“Paling ramai biasanya setelah Maghrib. Kemarin saja ada delapan mobil dari Pontianak berhenti di sini,” ungkapnya.

Setiap hari, Fajar mendatangkan satu mobil pikap berisi sekitar 2.400 buah durian. Separuhnya dijual untuk masyarakat umum, separuhnya lagi khusus digratiskan untuk jemaah haul.

“Jemaah boleh pilih sendiri dan makan sepuasnya di sini, tapi tidak untuk dibawa pulang,” imbuhnya.

Untuk masyarakat yang bukan jemaah, durian dijual dengan harga terjangkau, mulai dari Rp10 ribuan hingga Rp100 ribu untuk isi tiga sampai empat buah. 

Fajar menjelaskan, modal yang dikeluarkan untuk mendatangkan durian itu tak sedikit. Satu mobil durian bisa mencapai Rp30 juta, bahkan dalam sehari terkadang ia mendatangkan hingga dua mobil.

Saat ini, Fajar membuka dua lapak, masing-masing di Jalan Tjilik Riwut dan Jalan RA Kartini. Namun, lapak di Tjilik Riwut menjadi yang paling ramai karena berada di jalur lintasan jemaah.

“Ini baru pertama kali kami lakukan durian gratis untuk jemaah Haul Guru Sekumpul. Karena niat tulus pribadi,” pungkasnya.

Di tengah perjalanan spiritual ribuan jemaah, lapak durian sederhana itu menjadi simbol kecil dari ketulusan berbagi. Bukan sekadar tentang buah, melainkan tentang keikhlasan, kebersamaan, dan kebaikan yang tumbuh di pinggir jalan Kota Sampit. (DEWI PATMALASARI/y)