BORNEONEWS, Pangkalan Bun - TNTP bukan sekadar destinasi wisata alam, melainkan ruang hidup bagi orangutan liar yang bertahan di jantung hutan Kalimantan. Menyusuri Sungai Sekonyer menuju Taman Nasional Tanjung Puting, pengunjung diajak bertamu—bukan sebagai tuan rumah, melainkan sebagai tamu yang harus tahu diri di habitat alami satwa dilindungi.
Kapal klotok bergerak perlahan melawan arus Sungai Sekonyer yang tenang. Airnya cokelat kehitaman, menyerupai teh pekat—warna khas sungai di ekosistem rawa gambut. Di kiri dan kanan, hutan bakau dan pohon nipah tumbuh rapat, seolah menjadi gerbang alami menuju rumah orang utan liar Kalimantan.
Deru mesin kapal berpadu dengan kicau burung dan gemerisik dedaunan. Angin lembut menyapu wajah, menghadirkan suasana hening yang sulit ditemukan di perkotaan.
“Kalau datang Oktober sampai November, suasananya lebih tenang. Tidak seramai Juli–Agustus saat turis asing ramai,” ujar Ade, pemandu lokal yang menemani perjalanan menuju kawasan konservasi TNTP, Jumat, 26 Desember 2025.
Sungai Sekonyer menjadi jalur utama menuju habitat orangutan liar di Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.
Di kawasan ini terdapat tiga camp utama yang menjadi lokasi pengamatan orang utan, yakni Tanjung Harapan, Pondok Tanggui, dan Camp Leakey. Perjalanan kali ini mengarah ke Tanjung Harapan, camp terdekat dengan waktu tempuh hampir tiga jam menggunakan klotok.
Di lokasi ini, wisatawan dapat menyaksikan aktivitas pemberian pakan orang utan—momen yang selalu dinanti dan menjadi daya tarik utama TNTP.
Meski telah dilepasliarkan, orangutan di ketiga camp tersebut tetap mendapatkan pakan tambahan sebagai bagian dari proses adaptasi dan pemantauan. Pemberian pakan hanya dilakukan sekali sehari, tepat pukul 15.00 WIB.
Perjalanan panjang terasa lebih bersahabat karena klotok dilengkapi dapur kecil. Makan siang dimasak langsung di atas kapal, aromanya bercampur dengan udara sungai yang lembap, menambah hangat suasana di tengah hutan.
Dermaga Tanjung Harapan akhirnya terlihat. Orangutan belum tampak, tetapi hutan sudah memberi salam: seekor bekantan bergelayut di dahan tinggi, sementara bangau sandang lawe melintas perlahan di atas sungai.
TNTP bukan hanya rumah bagi orangutan. Kawasan ini juga menjadi habitat berbagai satwa liar lain, seperti owa-owa, kangkareng hitam, hingga buaya senyulong.
Dari dermaga, pengunjung masih harus berjalan kaki sekitar 1,5 kilometer menuju feeding station. Jalur setapak membelah hutan dengan tanah basah dan pepohonan tinggi. Di sepanjang jalan, terdapat tanaman berlabel yang menjelaskan khasiatnya bagi kesehatan dan kecantikan—pengetahuan yang diwariskan dari kearifan lokal dan riset ilmiah.
Di tengah perjalanan, sensasi bertamu ke rumah orangutan benar-benar terasa. Seekor orangutan dewasa tiba-tiba muncul, berjalan perlahan di antara pepohonan. Ada induk yang menggendong anaknya, ada pula jantan besar yang bersantai di dahan.
Mereka sadar akan kehadiran manusia, namun tetap tenang selama tidak diganggu. Di TNTP, manusia belajar menjadi tamu yang tidak mencampuri urusan penghuni hutan.
Bangku kayu di feeding station sudah dipenuhi pengunjung lokal dan mancanegara. Tepat pukul 15.00 WIB, dua ranger datang memikul keranjang berisi pisang, ubi, dan jagung.
Mereka menirukan suara khas orangutan sebagai tanda makan dimulai. Dari balik pepohonan, orang utan perlahan turun, mengintip dengan rasa ingin tahu.
Ada aturan tak tertulis yang selalu berlaku: jantan dewasa dominan mengambil makanan pertama. Betina dan individu lain menunggu giliran. Jika muncul jantan yang lebih kuat, yang sebelumnya berkuasa akan mengalah untuk menghindari konflik.
Pemandangan ini menjadi pelajaran langsung tentang struktur sosial orangutan—alami, sunyi, dan penuh keseimbangan.
Orangutan, “peneliti hutan” alami
Orangutan merupakan satu-satunya kera besar di Asia dan hanya ditemukan di Sumatera dan Kalimantan. Indonesia menjadi rumah bagi tiga spesies orang utan: orang utan sumatera (Pongo abelii), orang utan kalimantan (Pongo pygmaeus), dan orang utan tapanuli (Pongo tapanuliensis).
Ketiganya kini berstatus terancam kritis menurut IUCN. Populasi mereka tumbuh sangat lambat—betina hanya melahirkan satu anak setiap delapan tahun.
Namun, orangutan menyimpan potensi luar biasa. Dengan kesamaan DNA sekitar 97 persen dengan manusia, perilaku mereka dalam memilih pakan menjadi sumber pengetahuan penting.
Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bersama Universitas Mulawarman meneliti potensi nutrisi dan medisinal tumbuhan pakan orangutan di Bentang Alam Wehea–Kelay, Kalimantan Timur.
Dari 1.666 jenis tumbuhan yang dikonsumsi orangutan, lebih dari separuhnya digunakan manusia sebagai obat tradisional—mulai dari antiinfeksi, antiradang, hingga penyembuh luka.
Salah satu temuan penting adalah Macaranga conifera, tanaman yang berpotensi sebagai obat demam, batuk, diare, dan bahkan terapi penyakit degeneratif seperti kanker dan diabetes.
Dengan naluri alaminya, orang utan seakan berperan sebagai “peneliti hutan” yang membuka jalan bagi ilmu pengetahuan manusia.
Penjaga regenerasi hutan
Selain bernilai bagi riset medis, orangutan juga berperan besar dalam menjaga regenerasi hutan. Dengan wilayah jelajah luas dan kebiasaan menyebarkan biji melalui kotoran, mereka menjadi penyebar biji paling efektif di hutan tropis.
Penelitian menunjukkan biji yang melewati sistem pencernaan orangutan justru lebih cepat berkecambah dibandingkan biji yang ditanam manusia.
Tanpa orangutan, hutan kehilangan salah satu penopang regenerasi alaminya.
TNTP dan ancaman deforestasi
Di balik keindahan TNTP, ancaman terus mengintai. Deforestasi, alih fungsi hutan, perburuan, dan perdagangan ilegal masih menjadi tekanan serius bagi orang utan Kalimantan.
Diperkirakan, populasi orangutan kalimantan kini hanya sekitar 57.000 individu yang tersebar di 16 juta hektare hutan.
Data Kementerian Kehutanan mencatat deforestasi di Kalimantan Tengah pada 2024 mencapai lebih dari 16 ribu hektare. Upaya rehabilitasi dan reforestasi terus dilakukan, namun tantangannya tidak ringan.
Melindungi orangutan dan TNTP bukan sekadar soal konservasi satwa. Ini adalah tentang menjaga keseimbangan ekosistem, menyelamatkan pengetahuan alam yang belum sepenuhnya terungkap, dan memastikan masa depan manusia yang bergantung pada hutan.
Bertamu ke rumah orangutan di TNTP mengajarkan satu hal sederhana namun penting: manusia hanya bagian kecil dari alam—dan sudah semestinya belajar menghormati rumah yang bukan miliknya.









