BORNEONEWS, Sampit – Sebanyak 13.530 jemaah 5 Rajab 1447 Hijriah Sekumpul tercatat singgah di Posko Jalan Tjilik Riwut Km 6, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Data tersebut dihimpun sejak 24-27 Desember 2025 selama arus keberangkatan menuju Martapura, Kalimantan Selatan.
Ketua Posko Km 6 Sampit, Sufriadi, menjelaskan posko mulai dibuka pada Selasa pagi, 24 Desember 2025. Pembukaan dilakukan karena sejak Senin sudah banyak jemaah yang melintas dan singgah di area rest area tersebut.
“Sejak Senin sudah ada sekitar 70 unit mobil dari Kalbar, Lamandau, dan Sukamara yang melintas. Saat itu posko belum resmi dibuka karena belum koordinasi logistik. Akhirnya kami berinisiatif berkoordinasi dengan relawan dan sepakat membuka posko Selasa pagi,” ujarnya, Minggu, 28 Desember 2025.
Sufriadi mengatakan, posko akan beroperasi hingga arus balik Jemaah 5 Rajab Sekumpul, diperkirakan sampai 29 Desember 2025. Seluruh layanan yang disediakan bersifat gratis, mulai dari makanan, minuman, Wi-Fi, pemeriksaan kesehatan, tempat salat, hingga MCK.
“Semua logistik, khususnya makanan dan minuman, merupakan sumbangan masyarakat sekitar. Kami tidak pernah mengajukan proposal, tapi alhamdulillah masyarakat selalu berbondong-bondong membantu,” katanya.
Posko Km 6 Sampit sendiri telah berdiri sejak 2018 meski sempat vakum saat pandemi Covid-19. Pada momen haul tahun ini, tercatat 98 relawan terlibat aktif membantu pelayanan jemaah.
Jemaah yang singgah berasal dari berbagai daerah, seperti Kalimantan Barat, Pangkalan Bun, Seruyan, serta wilayah Kotim seperti dari Samuda dan Sebabi. Puncak kepadatan terjadi pada Jumat dan Sabtu pagi, sementara pada Minggu jumlah jemaah mulai berkurang karena puncak haul berlangsung pada 28 Desember di Martapura.
“Rata-rata yang singgah sekitar 1.500 jemaah per hari, bahkan momen kali ini lebih banyak dari momen sebelumnya karena bertepatan dengan libur akhir tahun,” tambahnya Sufriadi.
Wakil Ketua Posko Km 6 Sampit Kaspul Anwar menjelaskan rest area atau posko tersebut mulanya diinisiasi oleh Guru Syamsudin yang merupakan murid dari Guru Sekumpul.
"Guru Sekumpul itu tokoh besar ulama memang semasa hidup beliau saat memimpin pengajian puluhan ribu jemaahnya. Hampir semua tokoh agama di Kalimantan termasuk guru kami Guru Syamsudin itu murid beliau. Memang silsilah keilmuan kita terhubung dengan Guru Sekumpul," ujar Kaspul.
Sejarah keilmuan itulah yeng membuat relawan-relawan bersemangat. Karena KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau Guru Sekumpul merupakan sosok guru walaupun tidak secara langsung.
Sosoknya Guru Sekumpul dikenal luar biasa bahkan hingga di Pulau Jawa. Tahun lalu bahkan ada rombongan dari Semarang naik kapal turun ke Pelabuhan Kumai kemudian naik mobil menuju Martapura menginap di posko Km 6 Sampit.
Salah satu jemaah asal Pangkalan Bun, Nasrudin, mengaku terharu dengan sambutan masyarakat Kotim. Rombongannya dari Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, membawa sekitar 200 jemaah dengan 15 mobil.
“Saya sejak 2006 rutin membawa jemaah, kecuali saat Covid. Tahun ini jumlahnya meningkat karena bertepatan dengan libur. Pelayanan posko ini luar biasa, semoga bisa dipertahankan di tahun-tahun mendatang,” ujarnya.
Ia berharap seluruh jemaah dapat meneladani ajaran dan keteladanan KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau Guru Sekumpul serta kembali dipertemukan pada haul berikutnya.
"Kalau untuk singgah di posko ini sudah 2 kali, pada momen sebelumnya dan saat ini. Para jamaah yang telah dijamu di posko ini sangat bersyukur hanya Allah yang bisa membalas. Semoga kita bisa kembali hadir tahun depan dan jemaah bisa menyikapi atau meneladani guru kita Muhammad Zaini bin Abdul Ghani," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/H)









