BANJARBARU –

BORNEONEWS, Martapura - Puncak peringatan Momen 5 Rajab 1447 Hijriah di kawasan Kubah Guru Sekumpul, Martapura, berlangsung dengan suasana religius yang sangat kuat. Jemaah dari berbagai daerah di Indonesia memadati kawasan Sekumpul, jalan-jalan utama, hingga permukiman warga sejak Minggu siang hingga malam hari, Minggu 28 Desember 2025.

Pantauan di lapangan, kepadatan jemaah terlihat di hampir seluruh akses menuju Kubah Guru Sekumpul. Jalan raya dipenuhi jemaah yang berjalan kaki, dengan arus manusia mengalir tanpa henti menuju pusat kegiatan.

Tidak hanya di sekitar kubah, rumah-rumah warga di sepanjang jalur menuju Sekumpul turut dipenuhi jemaah. Banyak warga secara sukarela membuka rumah mereka sebagai tempat singgah, sekaligus menyediakan makan dan minum gratis bagi para jemaah yang datang.

Pemandangan dapur umum, posko relawan, hingga meja-meja sederhana berisi air mineral, teh, kopi, serta makanan siap santap terlihat hampir di setiap sudut jalan. Semangat berbagi dan melayani jemaah menjadi salah satu ciri kuat dalam puncak peringatan 5 Rajab tahun ini.

Dibandingkan pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya, jumlah jemaah yang hadir diperkirakan meningkat. Antusiasme terlihat dari membludaknya jemaah sejak beberapa hari sebelum puncak acara, dengan jumlah yang mencapai ratusan ribu hingga jutaan orang.

Kepadatan jemaah juga berdampak pada pengaturan lalu lintas. Sejumlah ruas jalan di sekitar Sekumpul ditutup dan dialihkan untuk menjaga kelancaran dan keamanan. Aparat keamanan, relawan, serta petugas kesehatan disiagakan di berbagai titik guna memastikan kegiatan berlangsung tertib dan kondusif.

Meski di tengah keramaian yang luar biasa, suasana peringatan tetap berlangsung khidmat. Lantunan zikir, selawat, dan doa terdengar mengalun, menyatu dengan kekhusyukan jemaah yang hadir untuk mengenang dan meneladani sosok ulama kharismatik Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Guru Sekumpul).

Puncak Momen 5 Rajab 1447 Hijriah kembali menegaskan Sekumpul sebagai ruang spiritual yang menyatukan umat dari berbagai latar belakang. Kebersamaan jemaah, relawan, dan warga setempat menjadi potret kuat nilai keikhlasan, gotong royong, serta kecintaan terhadap ulama yang terus hidup dari generasi ke generasi. (SITI AKOBAH/j)