PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, Eddy Abdurrahman menegaskan bahwa keberagaman minyak nabati dunia merupakan bagian penting dari ketahanan pangan global. Setiap negara dan kawasan, kata dia, memiliki pola konsumsi minyak nabati yang terbentuk dari sejarah, preferensi masyarakat, serta ketersediaan sumber daya alam masing-masing.

Eddy menjelaskan, dalam lintasan sejarah global, struktur konsumsi minyak nabati dunia telah mengalami perubahan signifikan. Salah satu yang paling menonjol adalah meningkatnya peran minyak sawit yang dari tahun ke tahun semakin mendominasi konsumsi minyak nabati global.

“Minyak sawit adalah sumber energi dan lemak yang telah dikonsumsi manusia sepanjang peradaban. Peran pangan ini merupakan peran utama dan tertua dari industri sawit,” kata Eddy dalam rilis BPDP pada Senin, 29 Desember 2025.

Ia menambahkan, minyak sawit saat ini dikonsumsi hampir di seluruh negara dunia, baik sebagai bahan pangan (food use) maupun bahan baku industri (industrial use). Hal ini sejalan dengan kajian yang menunjukkan bahwa sawit memiliki posisi strategis dalam sistem pangan dan industri global.

Mengacu pada data historis, Eddy memaparkan bahwa pada tahun 1965 konsumsi minyak nabati dunia masih didominasi minyak kedelai sebesar 61 persen, disusul minyak rapeseed 23 persen, minyak sawit 16 persen, dan minyak bunga matahari satu persen. Namun, peningkatan ketersediaan minyak sawit di pasar internasional, harga yang relatif kompetitif, serta fleksibilitas penggunaannya membuat pangsa konsumsi sawit tumbuh pesat.

“Dominasi minyak kedelai kemudian bergeser. Pada 2021, minyak sawit menempati posisi pertama dengan pangsa sekitar 40 persen konsumsi minyak nabati dunia, melampaui minyak kedelai, rapeseed, dan bunga matahari,” kata Eddy lagi.

Peningkatan konsumsi minyak sawit juga terjadi di berbagai kawasan utama dunia, termasuk Uni Eropa. Meski sempat didominasi minyak rapeseed dan bunga matahari, pangsa konsumsi minyak sawit di Uni Eropa meningkat dari 24 persen pada tahun 2000 menjadi 29 persen pada 2021.

Di Amerika Serikat, lanjut Eddy, minyak kedelai memang masih menjadi minyak nabati utama. Namun, penggunaan minyak sawit juga menunjukkan tren kenaikan signifikan, dari sekitar tiga persen pada 1980 menjadi 10 persen pada 2021. Sementara di China, pangsa konsumsi minyak sawit naik seiring pertumbuhan penduduk dan ekonomi hingga mencapai 19 persen pada 2021.

India bahkan menunjukkan lonjakan lebih tinggi. Dari pola konsumsi yang relatif berimbang pada 1980, minyak sawit kini mendominasi konsumsi minyak nabati negara tersebut dengan pangsa mencapai 44 persen pada 2021.

“Data ini menunjukkan sawit menjadi pilihan rasional secara ekonomi dan pasokan,” ungkap Eddy.

Ia menegaskan, pergeseran pola konsumsi minyak nabati dunia menuju peningkatan porsi minyak sawit merupakan pilihan yang realistis dan berkelanjutan. Produktivitas sawit yang jauh lebih tinggi dibanding minyak nabati lainnya menjadikan komoditas ini berperan penting dalam menjawab tantangan ketahanan pangan global di masa depan. (TESTI PRISCILLA/j)