KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kapuas - Momen 5 Rajab Sekumpul yang sebelumnya dikenal Haul Guru Sekumpul setiap 5 Rajab kembali menjadi peristiwa keagamaan terbesar di Kalimantan Selatan bahkan mungkin di Indonesia.

Lautan jamaah tumpah ruah menuju Martapura, Kabupaten Banjar, membawa satu tujuan yang sama yakni bershalawat, berzikir, dan meneladani cinta kepada Nabi Muhammad SAW melalui wasilah Guru Sekumpul. Jumlah kehadiran yang mencapai jutaan orang menjadikan peristiwa ini bukan sekadar haul, melainkan fenomena sosial dan spiritual yang jarang ditemui di tempat lain.

Berdasarkan data provider seluler yang disampaikan Kapolres Banjar, setidaknya 4,95 juta jamaah menghadiri puncak Momen 5 Rajab Sekumpul pada Minggu, 28 Desember 2025. Angka ini mencerminkan skala luar biasa dari pergerakan manusia lintas daerah, bahkan lintas pulau.

Arus jamaah datang tanpa henti sejak beberapa hari sebelumnya, memenuhi jalan-jalan utama dari Banjarbaru hingga Martapura, dengan berjalan kaki, kendaraan roda dua, hingga bus dan mobil pribadi bahkan jalur udara dan air.

Menariknya, di tengah kepadatan yang nyaris tak terbayangkan, banyak saksi mata justru merasakan suasana yang tertib, sejuk, dan damai. Tidak sedikit jamaah meyakini adanya “penjagaan yang tak terlihat” yang membuat jutaan orang dapat bergerak dalam satu irama kesabaran. Salah satu kisah yang kerap diceritakan dari tahun ke tahun adalah hujan yang seakan “tertahan” langit mendung menyelimuti Sekumpul, namun hujan baru turun setelah rangkaian haul selesai.

Bagi para pecinta Guru Sekumpul, peristiwa itu diyakini sebagai karomah dan kasih sayang Allah SWT, agar jamaah dapat mengikuti shalawat dan zikir dengan khusyuk. Keyakinan ini tidak diperdebatkan secara rasional, melainkan dihayati sebagai pengalaman batin kolektif yang terus hidup dari satu haul ke haul berikutnya, memperkuat rasa cinta dan penghormatan kepada ulama yang dikenal penuh kelembutan itu.

Kisah haru lainnya datang dari para relawan dan warga sekitar Sekumpul. Rezeki seolah mengalir tanpa putus. Saat makanan hampir habis, selalu ada yang datang membawa tambahan. Ketika air minum menipis, bantuan datang dari arah yang tak disangka. 

“Seperti sudah diatur,” ujar salah satu relawan, yang merasa hanya menjadi perantara dari niat besar melayani tamu Guru Sekumpul.

Fenomena berbagi ini tampak nyata di sepanjang jalur menuju Sekumpul. Banyak warga dengan sukarela memberi sangu jamaah berupa bensin, oli, servis kendaraan, makanan, minuman, uang tunai, bahkan jasa pijat gratis. Ratusan rest area dadakan berdiri, dan diyakini masih banyak lagi yang tidak tercatat. Semua dilakukan tanpa pamrih, hanya dengan satu niat: khidmah dan cinta.

Jamaah yang hadir pun datang dari berbagai penjuru Nusantara. Tidak hanya dari Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, tetapi juga dari Tembilahan, Riau, hingga Kuala Tungkal, Sumatra. Perbedaan latar belakang, suku, dan daerah seolah melebur dalam satu identitas: pecinta Guru Sekumpul dan Rasulullah SAW.

Sejumlah tokoh nasional turut tampak hadir di tengah jamaah, di antaranya Habib Ja’far dan Anies Baswedan. Kehadiran mereka menegaskan bahwa Momen 5 Rajab Sekumpul bukan hanya milik komunitas tertentu, melainkan ruang kebersamaan yang terbuka bagi siapa saja, tanpa sekat sosial maupun politik.

Bagi para pecinta Guru Sekumpul, karomah terbesar dari haul ini bukan semata peristiwa luar biasa, melainkan perubahan dalam diri: hati yang menjadi lembut, air mata yang mudah jatuh saat shalawat, dan tekad untuk memperbaiki akhlak setelah pulang. Di situlah karisma Almarhum Guru Sekumpul terus hidup menyatukan jutaan manusia dalam cinta, persaudaraan, dan kebaikan yang melampaui ruang dan waktu. (SABRIANOOR/H)