BORNEONEWS, Sampit – Penjualan kembang api menjelang pergantian Tahun Baru 2026 di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mengalami penurunan signifikan. Kondisi ini dirasakan langsung oleh para pedagang musiman, salah satunya Rizky Alfan yang berjualan kembang api di kawasan Taman Kota Sampit.
Rizky mengungkapkan, omzet penjualan kembang api tahun ini turun sekitar 50 hingga 70 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh adanya surat edaran Bupati Kotim yang mengimbau masyarakat untuk menghormati korban bencana alam di Aceh dan Sumatera serta bertepatan dengan pelaksanaan Haul Guru Sekumpul di Martapura, Kalimantan Selatan.
“Penjualan tahun ini memang menurun sekitar 50 sampai 70 persen. Awalnya kami belum menyadari akan turun, tapi setelah ada imbauan pemerintah dua hari terakhir, baru terasa dampaknya,” kata Rizky, Selasa, 30 Desember 2025.
Dirinya mulai berjualan kembang api sejak 21 Desember 2025 dengan jam operasional pukul 10.00 hingga 22.00 WIB. Saat itu ia belum menyadari akan adanya penurunan penjualan, kemudian beberapa hari lalu terbit imbauan pemerintah agar tidak merayakan tahun baru secara berlebihan. Atas hal itu, ia menyadari akan ada penurunan penjualan pada momen pergantian tahun 2025-2026.
“Omzet turun, modal belum balik. Hasil jualan hanya cukup untuk makan dan bayar sewa,” ujarnya.
Rizky menuturkan, jenis kembang api yang dijualnya hanya berskala kecil dan aman untuk anak-anak. Ia tidak menyediakan kembang api dengan daya ledak besar yang biasa digunakan untuk pesta.
“Kalau kembang api yang paling banyak diminati itu jenis kembang sarai untuk anak-anak,” tambahnya.
Meski penjualan sepi, harga kembang api tetap dipertahankan seperti sebelumnya, yakni mulai dari Rp3.000 hingga Rp180.000 per item.
Saat ini, pembeli didominasi warga lokal Sampit. Berbeda dengan momen sebelumnya, di mana pembeli juga datang dari kawasan perkebunan sawit di Kotim.
Rizky mengaku berjualan kembang api hanya bersifat musiman saat momen Tahun Baru dan Ramadan. Sehari-hari, ia bekerja sebagai pengemudi ojek.
“Kalau stok tidak habis, kami simpan di gudang untuk dijual di momen berikutnya. Yang saat ini, sebagian juga stok sisa Ramadan kemarin, lalu ditambah sedikit stok baru,” katanya.
Ia pun mengaku tidak berani menambah stok berlebihan melihat kondisi penjualan yang cenderung sepi. Rencananya, lapak kembang api tersebut akan dibuka hingga 3 Januari 2026 jika kondisi tetap sepi, dan maksimal sampai 7 Januari 2026 jika ada peningkatan pembeli.
“Kalau ramai bisa sampai 7 Januari, tapi kalau sepi kemungkinan sampai 3 Januari saja,” pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/H)









