BORNEONEWS, Palangka Raya – Kepala Bidang Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Kalimantan Tengah, Indra Wiratama mengungkapkan bahwa pihaknya telah mencatat sebanyak 840 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di provinsi Kalteng sejak Januari hingga 27 Desember 2025.
Jumlah ini menunjukkan bahwa karhutla tetap menjadi bencana yang paling meresahkan di daerah tersebut.
Menurut Indra Wiratama, sebagian besar kejadian karhutla tahun ini terjadi terutama di bagian selatan Kalteng.
Daerah yang paling sering terkena dampak antara lain Kotawaringin Timur, Pulang Pisau, Sukamara, dan juga ibukota provinsi, Palangka Raya.
Kondisi geografis dan iklim di wilayah selatan yang lebih kering selama musim kemarau menjadi faktor utama yang mempermudah terjadinya kebakaran.
"Kotawaringin Timur, salah satu daerah di selatan Kalteng, mencatat jumlah kejadian karhutla terbanyak dibandingkan daerah lain. Keadaan lahan yang banyak terdiri dari hutan gambut dan lahan pertanian yang tidak terawat dengan baik menjadi penyebab utama terjadinya kebakaran yang sering berkepanjangan," jelasnya, Selasa, 30 Desember 2025.
Selain Kotawaringin Timur, Pulang Pisau dan Sukamara juga mengalami banyak kejadian karhutla. BPB-PK Kalteng telah mengirimkan tim pemadam kebakaran ke daerah tersebut secara berkelanjutan untuk menekan penyebaran api dan melindungi wilayah yang masih alami serta pemukiman warga.
Ibukota Palangka Raya juga ujarnya tidak luput dari karhutla. Kejadian kebakaran di sekitar kota seringkali mempengaruhi kualitas udara, menyebabkan kabut asap yang mengganggu aktivitas sehari-hari warga dan berpotensi merusak kesehatan, terutama bagi anak-anak dan lansia.
"Kami dari BPB-PK Kalteng akan memperkuat upaya pemantauan dan pencegahan karhutla di wilayah selatan provinsi pada tahun mendatang. Selain itu, akan meningkatkan kerja sama dengan pemerintah daerah dan masyarakat untuk melakukan pengelolaan lahan yang lebih baik guna mengurangi risiko karhutla," tutupnya. (MARINI/R)









