BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Dua orangutan jantan hasil rehabilitasi kembali dilepasliarkan ke habitat alaminya di Resort Tanjung Harapan, kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Selasa, 30 Desember 2025.
Kedua orangutan tersebut masing-masing bernama Robert dan Mason. Robert merupakan orangutan jantan berusia 18 tahun dengan berat badan 31 kilogram, sementara Mason berusia 17 tahun dengan berat 33 kilogram.
Untuk itulah Orangutan Foundation Internasional (OFI) bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alaa (BKSDA) SKW II Pangkalan Bun dan didukung oleh Hotel Mercure Pangkalan Bun melakukan pelepasliaran primata tersebut.
General Manager (GM) Mercure Pangkalan Bun, Priyatna Widjajasoekma menyatakan bahwa pihaknya sangat mendukung kegiatan ini sebagai bentuk keikutsertaan dalam pelestarian alam, khususnya orangutan.
“Karena lokasi hotel Mercure di Pangkalan Bun yang merupakan pintu masuk ke Taman Nasional Tanjung Puting. Mercure Pangkalan Bun dan Accor Group sangat concern dengan kelestarian alam, yang salah satunya adalah orangutan,” jelas Priyatna Widjajasoekma.
Priyatna Widjajasoekma berharap pelepasliaran Robert dan Mason dapat berjalan sukses dan meningkatkan kesadaran masyarakat lokal.
“Harapannya kami bersama masyarakat luas juga bisa turut serta ambil bagian dalam hal pelestarian orangutan dan pelestariannya, karena primata tersebut, istilahnya berada halaman kita sendiri. Untuk itulah Mercure Pangkalan Bun merasa ikut bertanggung jawab untuk menjaga semua ini,” jelas Priyatna Widjajasoekma.
Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh artis Indonesia Dirly Dave dan mengaku mendapatkan pengalaman berkesan.
“Pengalamannya sangat berkesan dan menyenangkan. Saya bisa memperkenalkan alam Indonesia, khususnya Pangkalan Bun dan Tanjung Puting, kepada anak-anak saya,” tuturnya.
Dirly Dave mengaku bangga bisa terlibat langsung dalam proses pelepasliaran orangutan.
“Biasanya saya hanya melihat orangutan dari film. Tapi hari ini bisa melepas secara langsung. Saya bangga sebagai orang Indonesia, karena orangutan ini satu-satunya di dunia dan hanya ada di Indonesia,” jelas Dirly Dave.
Manager Program Orangutan Foundation Internasional (OFI), Dudi Kurniawan , menegaskan bahwa kegiatan pelepasliaran tersebut merupakan wujud komitmen panjang OFI dalam menjaga kelestarian orangutan, khususnya di kawasan TNTP.
“Orangutan Foundation International tetap komitmen dalam kegiatan konservasi orangutan, khususnya orangutan Kalimantan yang ada di Kalimantan Tengah. Tanjung Puting ini menjadi pusat konservasi dan rehabilitasi orangutan sejak dimulai oleh Ibu Prof. Biruté Mary Galdikas pada tahun 1971 hingga sekarang, kurang lebih sudah 53 tahun,” jelas Dudi Kurniawan.
Dudi Kurniawan menambahkan, perjuangan konservasi orangutan masih menghadapi banyak tantangan, terutama tekanan terhadap habitat akibat alih fungsi hutan.
“Masih panjang perjalanan kita untuk dapat melestarikan orangutan. Tekanan terhadap habitat, perubahan hutan menjadi tidak hutan, itu menjadi tantangan besar bagi kita yang bergerak di bidang konservasi,” jelas Dudi Kurniawan.
Pasca pelepasliaran, lanjut Dudi Kurniawan OFI akan melakukan pemantauan intensif terhadap Robert dan Mason selama dua pekan.
“Biasanya kita akan melakukan pemantauan selama 14 hari. Kita memastikan orangutan sudah bisa hidup di alam, mampu mencari makan sendiri, membuat sarang, dan mampu mengatasi ancaman seperti predator,” jelas Dudi.
Menurut Dudi Kurniawan, keberadaan feeding platform di kawasan Tanjung Harapan juga berfungsi sebagai sarana pemantauan populasi orangutan.
“Feeding ini salah satu alat untuk memonitor. Di Tanjung Harapan ada sekitar 30 individu orangutan yang rutin datang bergantian. Jadi fungsinya bukan hanya memberi makan, tapi juga memantau keberadaan mereka,” jelas Dudi Kurniawan. (WAHYU KRIDA/j)









