BORNEONEWS, Palangka Raya - Sekretaris Eksekutif Gapki Cabang Kalteng, Rawing Rambang, menegaskan bahwa kelapa sawit tetap menjadi komoditas primadona bagi Indonesia. Menurutnya, sawit berperan besar dalam menyumbang devisa negara, menyerap tenaga kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi baik di tingkat daerah maupun nasional.
Rawing menjelaskan, meski produksi Crude Palm Oil (CPO) dalam lima tahun terakhir (2020–2025) mengalami penurunan sekitar 3–5 persen, permintaan pasar internasional tetap tinggi. India dan China masih menjadi konsumen utama, sementara kebutuhan dalam negeri juga meningkat seiring kebijakan biodiesel serta kebutuhan minyak goreng dan margarin.
“Permintaan yang terus naik menunjukkan prospek sawit di tahun 2026 tetap cerah. Namun kita harus tetap waspada terhadap tantangan yang ada,” ujar Rawing Rambang kepada Borneonews pada Selasa, 30 Desember 2025.
Ia menambahkan, penurunan produksi tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di Malaysia sebagai produsen terbesar kedua. Kondisi ini dipicu oleh banyaknya tanaman sawit yang sudah tua sehingga membutuhkan program replanting.
Rawing menekankan pentingnya kebijakan pemerintah dalam mendukung peremajaan sawit serta penanganan kebun yang masuk kawasan hutan.
“Jika kebijakan tepat, iklim investasi akan tetap kondusif dan masyarakat bisa merasakan manfaatnya,” kata Mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalteng ini.
Dengan optimisme, Rawing mengajak semua pihak menyongsong tahun 2026 dengan harapan lebih baik, maju, dan berkembang demi kesejahteraan masyarakat. (TESTI PRISCILLA/j)









