PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, Eddy Abdurrahman, menegaskan bahwa kelapa sawit merupakan tanaman minyak nabati paling efisien dalam penggunaan lahan dibandingkan komoditas lain seperti kedelai, rapeseed, dan bunga matahari. Menurutnya, empat komoditas tersebut menyumbang sekitar 85-90 persen produksi minyak nabati global, namun kelapa sawit memiliki keunggulan produktivitas yang jauh lebih tinggi.

Berdasarkan data USDA (2021) dan Oil World (2020), luas areal kedelai, rapeseed, dan bunga matahari mengalami peningkatan signifikan dalam dua dekade terakhir. Kedelai misalnya, meningkat dari 75,5 juta hektare pada tahun 2000 menjadi 127 juta hektare pada 2020. Rapeseed bertambah dari 24,7 juta hektare menjadi 35,5 juta hektare, sementara bunga matahari naik dari 19,7 juta hektare menjadi 27,6 juta hektare. Adapun kelapa sawit juga bertambah, namun relatif lebih kecil, yakni dari 10 juta hektare menjadi 24 juta hektare.

“Ekspansi kedelai lima kali lipat lebih besar dibandingkan kelapa sawit. Rapeseed hampir 1,5 kali lipat lebih besar, dan bunga matahari sekitar 1,2 kali lipat lebih besar. Ini menunjukkan bahwa sawit lebih hemat lahan,” ujar Eddy Abdurrahman pada Selasa, 30 Desember 2025.

Lebih lanjut, Eddy menjelaskan bahwa efisiensi kelapa sawit terlihat dari produktivitasnya. Data tahun 2020 menunjukkan produksi minyak sawit mencapai 83,5 juta ton, jauh lebih tinggi dibandingkan kedelai 58,7 juta ton, rapeseed 27,3 juta ton, dan bunga matahari 21,5 juta ton. Jika dihitung per hektare, produktivitas sawit mencapai 4,3 ton, sedangkan kedelai hanya 0,45 ton, rapeseed 0,7 ton, dan bunga matahari 0,52 ton.

“Produktivitas sawit hampir sepuluh kali lipat lebih tinggi dibandingkan kedelai, delapan kali lipat lebih tinggi dari bunga matahari, dan enam kali lipat lebih tinggi dari rapeseed. Ini bukti nyata efisiensi sawit dalam menghasilkan minyak nabati,” tegas Eddy.

Efisiensi tersebut, lanjut Eddy, juga berdampak besar terhadap penghematan deforestasi global. Ia merujuk pada kajian PASPI Monitor (2021) yang membandingkan dua skenario, yakni dunia dengan sawit (S0) dan dunia tanpa sawit (S1). Dalam kondisi aktual tahun 2020 (S0), total luas areal empat komoditas minyak nabati mencapai 214,1 juta hektare dengan produksi 191 juta ton.

Namun, jika sawit tidak tersedia (S1), kebutuhan minyak nabati sebesar 191 juta ton harus dipenuhi dari kedelai, rapeseed, dan bunga matahari. Hal ini akan memaksa perluasan lahan hingga 167 juta hektare tambahan, terdiri dari 112 juta hektare kedelai, 30 juta hektare rapeseed, dan 25 juta hektare bunga matahari.

“Tanpa sawit, deforestasi global akan meningkat drastis,” kata Eddy.

Sebaliknya, jika seluruh kebutuhan minyak nabati dunia dipenuhi oleh sawit, luas perkebunan yang dibutuhkan hanya sekitar 45 juta hektare.

“Dengan produktivitas tinggi dan efisiensi lahan, sawit justru berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan. Kehadiran sawit bukan ancaman, melainkan solusi dalam menjaga keberlanjutan,” tutur Eddy Abdurrahman. (TESTI PRISCILLA/j)