BORNEONEWS, Sampit – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mendorong penguatan peran kecamatan dalam penanggulangan bencana melalui Program Kecamatan Tangguh Bencana (Kencana).
"Kencana itu menjadi bagian dari akselerasi dan perpanjangan tangan dalam penanggulangan bencana di basis Kecamatan," kata Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, Selasa, 30 Desember 2025.
Kencana merupakan program pemerintah Indonesia yang bertujuan memperkuat kesiapsiagaan, mitigasi, dan respons bencana di tingkat kecamatan.
Program ini mengoptimalkan peran camat beserta seluruh pemangku kepentingan agar masyarakat semakin mandiri dalam menghadapi bencana, sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM) Sub Urusan Bencana sebagaimana diatur dalam Permendagri Nomor 101 Tahun 2018.
Di Kabupaten Kotawaringin Timur terdapat 17 kecamatan yang menjadi sasaran program ini. BPBD berharap seluruh kecamatan dapat berkontribusi aktif, baik pada tahap mitigasi maupun saat terjadi bencana.
“Seluruh program dan kegiatan sudah disesuaikan dengan mempertimbangkan lokasi rawan bencana. Nantinya, teman-teman di kecamatan akan kami dorong dan bekali pengetahuan tambahan agar mampu mengadopsi risiko dan potensi bahaya di wilayah masing-masing,” ujarnya.
Menurut Multazam, kehadiran pemerintah dalam penanganan bencana sering dituntut cepat oleh masyarakat. Oleh karena itu, peran kecamatan menjadi sangat strategis untuk bersinergi dengan BPBD Kotim, sehingga penanganan bencana dapat dilakukan lebih responsif dan efektif.
Pembentukan Kencana, lanjutnya, tidak bersifat parsial. Seluruh jenis bencana akan menjadi perhatian kecamatan, mulai dari tahap pra bencana, tanggap darurat, hingga pascabencana.
“Dengan Kencana, saat persiapan tanggap darurat, kecamatan sudah memiliki pengetahuan tambahan. Misalnya ketika terjadi banjir, mereka bisa menghimpun data awal, melihat kerugian dan kerusakan, karena BPBD tidak selalu bisa hadir dalam waktu yang sangat cepat,” tambahnya.
Lanjutnya, pada tahap awal BPBD Kotim akan mendorong penerapan Kencana di beberapa kecamatan terlebih dahulu. Program ini rencananya akan dilaunching bertepatan dengan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat kecamatan.
“Memang prosesnya agak terlambat, tetapi sebelumnya kita sudah mengenal konsep Destana atau Desa Tangguh Bencana. Mengapa tidak kita rangkum di tingkat kecamatan melalui Kencana agar lebih aktif, sehingga Destana di desa-desa juga bisa semakin tumbuh,” katanya.
Sebagai bentuk dukungan, BPBD Kotim juga akan mendistribusikan peta-peta tematik kebencanaan yang disesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing kecamatan. Peta tersebut akan memuat potensi ancaman seperti banjir dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Wilayah selatan Kotim dikenal dengan ancaman karhutla, wilayah utara rawan banjir, sedangkan wilayah tengah memiliki potensi banjir dan karhutla,” pungkas Multazam. (DEWI PATMALASARI/j)









