BORNEONEWS, Palangka Raya - Sekretaris Eksekutif Gapki Cabang Kalteng, Rawing Rambang, mengingatkan bahwa meski prospek kelapa sawit di tahun 2026 masih menjanjikan, ada tantangan besar yang harus diwaspadai. Salah satunya adalah harga minyak sawit yang sejak April 2024 lebih tinggi dibandingkan minyak nabati lain seperti soft oil.
Menurut Rawing, kondisi ini bisa memicu konsumen beralih ke minyak nabati yang lebih murah, seperti kedelai dari Brasil dan Argentina yang produksinya meningkat.
“Kita khawatir harga yang terlalu tinggi justru merugikan posisi Indonesia sebagai produsen terbesar sawit dunia,” kata Rawing pada Selasa, 30 Desember 2025.
Selain itu, Rawing menyoroti masalah produksi yang menurun akibat banyaknya tanaman tua dan keterbatasan lahan karena sebagian kebun masuk kawasan hutan. Hal ini membuat program replanting menjadi sangat mendesak untuk menjaga keberlanjutan produksi.
“Jika tidak segera dilakukan peremajaan, produktivitas akan terus menurun. Padahal kebutuhan pangan dan energi terus bertambah seiring pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Rawing menekankan perlunya kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan industri sawit, termasuk dukungan terhadap investasi dan pengelolaan lahan.
“Kebijakan yang tepat akan menjaga daya saing sawit di pasar global,” tambahnya.
Ia berharap pemerintah dan pelaku usaha dapat bersinergi agar tantangan global tidak menghambat kontribusi sawit terhadap pembangunan nasional. (TESTI PRISCILLA/j)









