BORNEONEWS, Banjarmasin – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Pemprov Kalsel) merealisasikan program cetak sawah baru seluas 10 ribu hektare hingga akhir 2025. Capaian tersebut dinilai setara dengan sejumlah provinsi lain, termasuk Kalimantan Tengah (Kalteng), meski waktu pelaksanaannya relatif lebih singkat.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kalsel Syamsir Rahman mengatakan, realisasi cetak sawah tersebut telah mencapai sekitar 30 persen dari target nasional seluas 30 ribu hektare yang tersebar di beberapa kabupaten.
“Salah satunya berada di Kabupaten Tanah Laut,” ujar Syamsir di Banjarmasin.
Ia menjelaskan, program cetak sawah di Kalsel mulai dilaksanakan pada Juli 2025 dan berakhir pada pertengahan November 2025. Pelaksanaan harus menyesuaikan kondisi alam, terutama sebelum intensitas hujan meningkat dan air mulai masuk ke area persawahan.
“Sebelum air mulai tinggi masuk ke lahan persawahan akibat curah hujan yang tinggi di akhir tahun,” katanya.
Meski dihadapkan pada kendala cuaca dan waktu yang terbatas, Syamsir menyebut capaian Kalsel tetap mampu menyamai persentase realisasi sejumlah provinsi lain yang memulai program lebih awal, seperti Kalteng, Sumatera Selatan (Sumsel), dan Papua.
Menurut dia, lahan sawah baru tersebut diperkirakan mulai dapat ditanami pada Maret atau April 2026, setelah kondisi air di area persawahan berangsur surut.
“Mungkin bulan Maret atau April 2026 nantinya sawah yang baru dibuka itu sudah bisa kita tanami,” ujarnya.
Jika proses tanam berjalan sesuai rencana, lahan sawah baru ini diproyeksikan mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap ketahanan pangan daerah. Dengan asumsi produksi sekitar lima ton per hektare, potensi hasil panen diperkirakan mencapai 50 ribu ton gabah kering.
Syamsir menambahkan, program cetak sawah baru akan terus dilanjutkan pada 2026 dengan fokus memaksimalkan pencapaian target nasional seluas 30 ribu hektare.
Saat ini, produksi padi di Kalimantan Selatan tercatat mencapai sekitar 1,177 juta ton, meningkat sekitar 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian tersebut memperkuat posisi Kalsel sebagai salah satu daerah penyangga pangan nasional karena mampu menghasilkan surplus untuk memenuhi kebutuhan daerah.
ANTARA









