BORNEONEWS, Nanga Bulik – Akademisi Politeknik Lamandau, Kalimantan Tengah, Yulio Kristian Tinduh menegaskan bahwa penerapan pengendalian hama dan penyakit secara terpadu menjadi faktor penentu dalam meningkatkan produktivitas tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat perkebunan rakyat.
Menurut dosen Teknologi Produksi Tanaman Perkebunan itu, penanganan hama dan penyakit yang terlambat atau tidak sesuai prosedur berpotensi menurunkan hasil panen, bahkan dapat menyebabkan kematian tanaman sawit.
“Pengendalian harus dilakukan secara tepat dan terintegrasi. Jika penanganannya terlambat, dampaknya bukan hanya pada penurunan produksi, tetapi juga risiko kerugian ekonomi bagi petani,” ujar Yulio di Nanga Bulik dalam rilis diterima pada Kamis, 1 Januari 2026.
Ia menjelaskan, kesalahan dalam pengelolaan hama dan penyakit sering kali berujung pada kerusakan serius pada tanaman. Kondisi tersebut menjadi salah satu materi yang disampaikan pihaknya dalam kegiatan penyuluhan dan pengabdian kepada masyarakat terkait strategi pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) di perkebunan kelapa sawit.
Sejumlah hama utama yang kerap menyerang tanaman sawit antara lain ulat api seperti Setothosea asigna, Setothosea nitens, Darna trima, Darna deducta, Darna bradleyi, Birthamula bisura, Mahasena corbetti, Metisa plana, dan Darna mundora. Selain itu, petani juga perlu mewaspadai serangan ulat kantong, penggerek tandan buah, tikus, kumbang tanduk, hingga hama babi.
Dari sisi penyakit, Yulio mengingatkan ancaman busuk tandan buah, busuk pucuk, serta busuk pangkal batang yang disebabkan oleh jamur Ganoderma sp. Penyakit ini dinilai berbahaya karena mampu menyebar melalui sistem perakaran dan sulit dikendalikan jika tidak terdeteksi sejak dini.
“Gejala awal ganoderma biasanya terlihat dari kanopi tanaman yang pucat serta munculnya tiga atau lebih daun tombak pada satu pokok. Jika sudah parah, tanaman tidak dapat diselamatkan,” ujarnya, mengutip kajian Pardamean (2017).
Ia menyebutkan, pengendalian hama dan penyakit dapat dilakukan melalui tiga pendekatan utama, yakni manual, biologis, dan kimia. Pengendalian manual dilakukan dengan pengambilan hama secara langsung menggunakan alat pelindung diri, sementara pengendalian biologis memanfaatkan musuh alami. Adapun pengendalian kimia harus dilakukan secara bijak dan sesuai kebutuhan.
Sebagai contoh, serangan tikus yang merusak buah sawit dapat ditekan dengan memanfaatkan burung hantu sebagai predator alami. Metode ini dinilai lebih ramah lingkungan dan mampu mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia.
Sementara itu, populasi ulat api dan ulat kantong dapat dikendalikan melalui pemanfaatan predator alami seperti Sycanus sp. dan Eocanthecona furcellata. Keberadaan predator tersebut dapat didukung dengan penanaman tanaman inang, antara lain Turnera subulata, Cassia cobanensis, Hibiscus rosa sinensis, Antigonon leptopus, dan Euphorbia heterophylla.
Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, Yulio mengungkapkan masih banyak petani yang belum mampu membedakan gejala serangan hama dan penyakit dengan gejala kekurangan unsur hara. Kesalahan identifikasi ini kerap berujung pada perlakuan yang tidak tepat, seperti pemupukan pada tanaman yang sebenarnya sedang terserang OPT.
“Kesalahan perlakuan justru dapat memperparah kondisi tanaman. Karena itu, petani perlu dibekali pengetahuan untuk mengenali jenis hama dan penyakit serta melakukan sensus secara rutin,” katanya.
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat, para petani didorong untuk melakukan pengamatan dan pencatatan gejala serangan sejak dini. Deteksi awal dinilai penting guna mencegah meluasnya kerusakan tanaman di perkebunan.
“Pengendalian hama dan penyakit dengan mengombinasikan cara manual, biologis, dan kimia merupakan langkah strategis untuk mendukung perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan. Pemanfaatan musuh alami menjadi solusi yang aman bagi lingkungan sekaligus menguntungkan bagi petani,” pungkasnya.









