SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Harga rotan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) sempat mengalami penurunan drastis pada Desember 2025 lalu, namun kini kembali menunjukkan tren kenaikan di awal tahun 2026. Kenaikan ini diyakini terkait dengan datangnya musim durian dan buah lokal lainnya di daerah tersebut.

“Harga sempat anjlok di akhir tahun, tapi ini mulai merangkak naik. Biasa, (kenaikan) fenomena durian," kata H Dahlan Ismail pengusaha rotan di Kecamatan Kota Besi, Jumat, 2 Januari 2026.

Ia menjelaskan bahwa selama bulan Desember, harga rotan di tingkat petani turun dari Rp6.000 menjadi Rp4.000 per kilogram, diduga akibat berkurangnya permintaan rotan mentah di akhir tahun.

Namun memasuki pekan ini pada Januari 2026, harga rotan sudah naik menjadi Rp4.500 per kilogram dan berpotensi terus naik.

“Ini terjadi karena saat musim durian seperti sekarang, petani rotan banyak yang lebih memilih memanen buah durian, sehingga rotan langka di petani, makanya harga rotan menjadi naik," ujarnya. 

Dahlan memperoleh pasokan rotan dari kebunnya sendiri di Kecamatan Kota Besi, serta membeli dari petani sekitar Kecamatan Cempaga, yang dikenal sebagai daerah penghasil rotan utama di Kotim.

“Saat kondisi normal, dalam sebulan bisa mengirim sekitar 50 ton rotan ke Cirebon. Namun ketika stok menipis, terkadang hanya mampu mengirim sekitar 20 ton,” ungkapnya.

Menurutnya, fenomena kenaikan harga rotan ini juga dipengaruhi oleh adanya musim panen buah duku dan langsat yang menyita perhatian petani. 

Memanen durian dan langsat lebih mudah sehingga itu menjadi pilihan warga saat ini. Sementara memanen rotan memerlukan tenaga, waktu dan biaya untuk mengangkutnya.

Dahlan, yang dikenal getol memperjuangkan aspirasi petani rotan, mengatakan belum bisa memastikan sampai kapan kenaikan harga ini akan bertahan.

"Namun saat ini kondisi sudah mulai memasuki musim panen buah lokal yang membuat harga rotan tetap akan tinggi setidaknya untuk beberapa waktu ke depan," imbuhnya. (DEVIANA/y)