BORNEONEWS, Palangka Raya - Sekretaris Eksekutif Gapki Cabang Kalteng, Rawing Rambang, menilai program peremajaan sawit atau replanting menjadi kunci utama menjaga prospek komoditas ini di tahun 2026. Menurutnya, banyak kebun sawit di Indonesia dan Malaysia yang sudah tua sehingga produktivitas menurun.
“Peremajaan adalah solusi agar produksi kembali meningkat. Tanpa itu, kita akan kesulitan memenuhi permintaan pasar yang terus naik,” kata Rawing pada Sabtu, 3 Januari 2026.
Ia menjelaskan, meski produksi menurun, permintaan CPO tetap tinggi baik di pasar internasional maupun domestik. India dan China masih menjadi pasar utama, sementara kebutuhan dalam negeri meningkat karena kebijakan biodiesel serta konsumsi minyak goreng dan margarin.
Rawing menambahkan, selain peremajaan, isu penggunaan lahan juga menjadi tantangan. Banyak kebun sawit yang masuk kawasan hutan sehingga perlu penanganan serius dari pemerintah agar tidak menghambat produksi.
“Jika kebijakan lahan dan peremajaan berjalan baik, maka prospek sawit di 2026 akan semakin kuat. Sawit tetap akan menjadi motor penggerak ekonomi nasional,” ujar Mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalteng ini.
Rawing menegaskan bahwa sawit bukan hanya komoditas ekspor, tetapi juga penopang kesejahteraan masyarakat. Ia mengajak semua pihak untuk menyongsong tahun 2026 dengan semangat membangun industri sawit yang berkelanjutan. (TESTI PRISCILLA/j)









