BORNEONEWS, Palangka Raya - Produktivitas minyak nabati menjadi faktor kunci dalam menilai efisiensi penggunaan lahan. Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, Eddy Abdurrahman, menyebut kelapa sawit sebagai tanaman penghasil minyak nabati paling efisien dibandingkan kedelai, rapeseed, dan bunga matahari.
Berdasarkan data USDA tahun 2021, produksi minyak sawit dunia pada 2020 mencapai 83,5 juta ton, jauh melampaui produksi minyak kedelai sebesar 58,7 juta ton, minyak rapeseed 27,3 juta ton, dan minyak bunga matahari 21,5 juta ton.
Jika dibandingkan dengan luas arealnya, produktivitas minyak sawit tercatat sekitar 4,3 ton per hektare dari gabungan crude palm oil (CPO) dan crude palm kernel oil (CPKO). Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan rapeseed yang hanya 0,7 ton per hektare, bunga matahari 0,52 ton, dan kedelai 0,45 ton per hektare.
“Produktivitas sawit hampir sepuluh kali lebih tinggi dibandingkan kedelai, delapan kali lebih tinggi dari bunga matahari, dan enam kali lebih tinggi dari rapeseed,” jelas Eddy, mengutip temuan PASPI Monitor pada Sabtu, 3 Januari 2026.
Menurut Eddy, efisiensi lahan sawit berdampak langsung pada upaya penghematan deforestasi global. PASPI Monitor menggambarkan dua skenario, yakni dunia dengan sawit dan dunia tanpa sawit, untuk melihat konsekuensi penggunaan lahan.
Pada skenario tanpa sawit, dunia membutuhkan tambahan lahan hingga 167 juta hektare untuk menggantikan produksi minyak nabati dari kedelai, rapeseed, dan bunga matahari.
“Ini berarti tekanan terhadap hutan dunia akan jauh lebih besar jika minyak sawit tidak dimanfaatkan,” kata Eddy Abdurrahman. (TESTI PRISCILLA/j)









