BORNEONEWS, Sampit – Anggota DPRD Kotawaringin Timur (Kotim) Zainuddin menegaskan dukungannya terhadap rencana pembangunan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kotim.
Menurutnya, pembangunan sekolah tersebut sangat mendesak mengingat tingginya minat masyarakat terhadap pendidikan berbasis keagamaan di daerah ini.
Zainuddin mengungkapkan, MAN Kotim yang saat ini beroperasi memiliki jumlah peserta didik lebih dari 1.200 siswa. Setiap tahunnya, jumlah pendaftar baru mencapai sekitar 400 hingga 500 orang. Namun, daya tampung sekolah terbatas sehingga hanya sekitar 50 hingga 60 persen calon siswa yang dapat diterima.
“Artinya, masih banyak anak-anak kita yang belum tertampung di MAN Kotim. Ini menjadi alasan kuat mengapa pembangunan MAN 2 sangat dibutuhkan,” ujarnya, Sabtu, 3 Januari 2026.
Tingginya animo masyarakat, lanjut Zainuddin, tidak terlepas dari harapan orang tua agar anak-anak mereka mendapatkan pendidikan agama yang kuat sebagai bekal masa depan. Menurutnya, pendidikan berbasis keagamaan diyakini mampu membentuk karakter generasi bangsa yang lebih baik.
“Motivasi masyarakat sangat tinggi menyekolahkan anaknya di pendidikan agama. Harapannya, dengan agama yang kuat, persiapan generasi ke depan akan lebih baik,” katanya.
Lanjutnya, pemerintah daerah telah menyatakan kesiapan untuk menghibahkan lahan sebagai syarat pembangunan MAN 2 Kotim. Lahan yang dibutuhkan diperkirakan minimal seluas 3 hingga 4 hektare, setara dengan kebutuhan pembangunan sekolah tingkat SMA.
“Pemerintah daerah sudah bersiap memberikan hibah tanah. Insya Allah lokasinya berada di kawasan lingkar utara,” tambah Zainuddin.
Sementara itu, dari sisi anggaran, pemerintah pusat melalui Kementerian Agama disebut telah siap mendukung pembangunan MAN 2 Kotim. Saat ini, proses realisasi pembangunan tinggal menunggu penyelesaian hibah lahan dari pemerintah daerah.
“Kalau hibah tanah sudah selesai, maka pembangunan MAN 2 Kotim bisa segera terwujud,” ucapnya.
Sebagai informasi, saat ini di Kotim terdapat dua Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN), dua Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN), dan satu Madrasah Aliyah Negeri (MAN). Selain madrasah negeri, terdapat pula madrasah swasta dengan jumlah keseluruhan sekitar 74 lembaga.
Tak hanya itu, Kementerian Agama juga membina berbagai lembaga keagamaan lainnya, seperti pondok pesantren, Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), majelis taklim, hingga kegiatan kemasjidan yang berperan penting dalam pembinaan umat di daerah.
Zainuddin mengingatkan pentingnya pengawasan dan pembinaan berkelanjutan terhadap aktivitas keagamaan dan pendidikan. Ia berharap Kementerian Agama terus memonitor agar kegiatan umat tidak disalahgunakan oleh oknum yang memiliki kepentingan merusak persatuan bangsa.
Ia menyinggung adanya kasus teror bom di Jakarta yang terjadi di lingkungan pendidikan saat salat Jumat beberapa waktu lalu. Menurutnya, hal tersebut menjadi peringatan bahwa paham radikalisme dapat masuk melalui berbagai celah, termasuk media digital dan internet.
“Artinya, di dunia pendidikan pun sudah ada cikal bakal radikalisme. Semoga hal seperti itu tidak muncul di Kotim dan Kalimantan Tengah. Kita berharap kejadian tersebut menjadi peringatan agar pendidikan diformulasikan dengan lebih baik,” pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/H)









