JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta - Venezuela meminta Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) menggelar rapat darurat menyusul serangan militer Amerika Serikat terhadap wilayah negara tersebut. Permintaan itu disampaikan pemerintah Venezuela sebagai respons atas eskalasi konflik yang dinilai melanggar hukum internasional.

Menteri Luar Negeri Venezuela, Yvan Gil, menyatakan bahwa serangan yang dilakukan Amerika Serikat merupakan tindakan agresi serius terhadap kedaulatan negaranya. Ia menegaskan, pemerintah Venezuela telah secara resmi meminta DK PBB mengambil langkah cepat untuk menyikapi situasi tersebut.

“Sebagai tanggapan atas agresi kriminal yang dilakukan pemerintah Amerika Serikat terhadap bangsa kami, Venezuela telah mengajukan permintaan rapat darurat Dewan Keamanan PBB, lembaga yang memiliki mandat menjaga dan menegakkan hukum internasional,” ujar Gil melalui kanal Telegram resminya, Sabtu, 3 Januari 2026.

Gil menambahkan, pemerintah dan rakyat Venezuela tidak akan gentar menghadapi tekanan maupun serangan dari pihak luar. Menurutnya, kekuatan nasional Venezuela akan tetap bertahan menghadapi situasi yang berkembang.

Di sisi lain, pemerintah Venezuela menuding Amerika Serikat telah melancarkan serangan ke sejumlah fasilitas sipil dan militer di beberapa negara bagian. Menyusul kejadian tersebut, Caracas menetapkan status darurat nasional untuk mengantisipasi dampak lanjutan.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi adanya operasi militer berskala besar melalui akun media sosial Truth Social. Dalam pernyataannya, Trump mengklaim Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya telah ditangkap dan diterbangkan ke luar negeri.

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi tambahan dari Dewan Keamanan PBB terkait permintaan rapat darurat yang diajukan Venezuela.

Sumber: Anadolu/ANTARA