SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Di tengah derasnya arus motor-motor baru dengan desain futuristik dan fitur serba digital, sebuah skutik mungil dari awal 2000-an justru kembali mencuri perhatian. Yamaha Mio lawas, motor matik yang pernah merajai jalanan Indonesia, kini kembali naik daun. Bukan sekadar alat transportasi, Mio generasi awal menjelma menjadi simbol nostalgia dan gaya hidup retro yang digemari anak muda hingga kolektor.

Fenomena kebangkitan Yamaha Mio lawas ini tampak jelas di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Motor berdesain sederhana itu kini kembali sering terlihat mengaspal, mulai dari jalan protokol hingga sudut-sudut kota. Tak hanya itu, geliatnya juga ditandai dengan lahirnya komunitas-komunitas pecinta Mio generasi awal, salah satunya Mio Family.

“Saat ini anggota kami masih 19 orang. Ke depan kemungkinan akan terus bertambah, karena yang suka dengan motor mungil ini ternyata banyak,” ujar Muhammad Jimi, salah seorang anggota komunitas Mio Family, Senin, 5 Januari 2026.

Bagi para penggemarnya, Yamaha Mio generasi awal punya daya tarik yang tak lekang oleh waktu. Desainnya simpel dan ikonik, bodinya ramping, serta dikenal tangguh untuk penggunaan harian. Tak kalah penting, perawatannya relatif mudah dan suku cadangnya masih gampang ditemukan di pasaran.

“Itu yang bikin Mio lawas sampai sekarang masih enak dipakai, baik untuk motor harian maupun dimodifikasi,” tambahnya. 

Tren modifikasi yang berkembang di kalangan pecinta Mio lawas pun cenderung sederhana. Banyak pemilik memilih konsep standar harian, sementara sebagian lainnya mengusung gaya racing look ringan. Namun, tak sedikit pula yang sengaja mempertahankan tampilan orisinal motor, karena justru di situlah letak pesona Mio generasi awal.

Di Sampit, keberadaan komunitas seperti Mio Family menjadi ruang berkumpul sekaligus tempat berbagi cerita. Mulai dari diskusi seputar perawatan mesin, berburu suku cadang langka, hingga merancang konsep modifikasi, semuanya dibahas dalam suasana kekeluargaan. Agenda kopi darat (kopdar) dan riding santai pun rutin dilakukan untuk mempererat kebersamaan.

“Kalau kami lagi kumpul, obrolannya macam-macam. Tapi kalau sudah soal Mio, biasanya bahas perawatan motor, konsep modifikasi, sampai saling berbagi spare part,” pungkas Jimi.

Di tengah perkembangan dunia otomotif yang kian modern, Yamaha Mio lawas seolah membuktikan bahwa pesona motor sederhana tak pernah benar-benar pudar. Di Sampit, skutik ini bukan hanya kembali mengaspal, tetapi juga menghidupkan kembali kenangan, kebersamaan, dan kecintaan pada roda dua yang apa adanya. (DEWI PATMALASARI/y)