BORNEONEWS, Sampit – Dua murid Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terindikasi terpapar paham radikalisme melalui game online Roblox.
Wakil Bupati Kotim, Irawati mengungkapkan bahwa informasi tersebut disampaikan langsung oleh Densus 88 yang datang ke Kotim dalam rangka pengamanan Natal dan Tahun Baru (Nataru).
“Kemarin saya menerima informasi dari Densus 88. Ada indikasi dua anak pelajar di Kotim mengikuti paham radikalisme. Cara perekrutannya melalui game online seperti Roblox, kemudian diarahkan masuk ke grup WhatsApp,” kata Irawati, Senin, 5 Januari 2025.
Dalam grup tersebut anak-anak diajarkan konten berbahaya, mulai dari kebencian terhadap orang lain, ajaran radikalisme berbasis agama, hingga kekerasan.
Kondisi ini diperparah dengan faktor psikologis anak yang masih labil dan mudah terpengaruh, terutama jika mengalami perundungan.
Saat ini kedua pelajar tersebut berada dalam pengawasan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Kotim bersama DP3A2KB Kotim. Pemerintah memastikan pembinaan masih memungkinkan karena indikasi paparan belum terlalu jauh.
“Alhamdulillah masih bisa dikontrol dan dibina. Keluarga juga sudah diberikan pemahaman dan anak-anak dipantau secara berkala,” ujarnya.
Irawati menegaskan, anak usia 5 hingga 15 tahun merupakan kelompok paling rentan terpapar paham radikal melalui media digital. Oleh karena itu, ia mendorong pembatasan penggunaan gadget bagi anak-anak, khususnya di tingkat SD dan SMP.
Dirinya juga berencana berkoordinasi dengan Bupati untuk menerbitkan instruksi pembatasan penggunaan gadget bagi anak. Kebijakan serupa telah diterapkan di daerah lain seperti Surabaya.
“Game online bisa menjadi pintu masuk paham radikalisme. Ini sangat berbahaya. Orang tua harus lebih waspada dan membatasi penggunaan gadget,” tambahnya.
Selain dua pelajar SD, Irawati juga mengungkap adanya Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kotim yang turut terpantau masuk dalam lingkaran pengawasan. ASN tersebut akan diberikan pembinaan dan penyuluhan bersama instansi terkait.
Pemerintah daerah pun mengimbau masyarakat, khususnya orang tua, untuk mengarahkan anak-anak mengikuti kegiatan yang lebih positif serta aktif memantau aktivitas digital mereka.
“Jangan sampai kejadian tragis seperti di daerah lain dimana anak membunuh orang tuanya hanya karena game dihapus terjadi di Kotim. Pencegahan harus dilakukan sejak dini,” pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/R)









