BORNEONEWS, Palangka Raya - Impor binatang hidup khususnya sapi tercatat masuk ke Kalimantan Tengah pada Oktober 2025, meski porsinya relatif kecil dibanding kelompok barang lainnya.
Data ini menunjukkan adanya upaya pelaku usaha dalam menjaga ketersediaan pasokan sapi di daerah, terutama menjelang kebutuhan besar pada momen keagamaan.
Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti menjelaskan bahwa impor sapi merupakan kegiatan usaha PT Sulung Ranch yang berlokasi di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat.
"Kita awalnya juga tidak tahu terkait hal ini, namun karena terekam dalam data statistik tentu kita juga penasaran dan mencari tahu. Ternyata impor ini dilakukan oleh sebuah badan usaha di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat yaitu PT Sulung Ranch," kata Agnes dalam penyampaian Berita Resmi Statistik pada Senin, 5 Januari 2026.
Menurut Agnes, impor dilakukan secara legal dan tercatat dalam statistik resmi perdagangan luar negeri.
Menurut Agnes, langkah impor sapi ini besar kemungkinan dilakukan sebagai persiapan menghadapi Idul Adha 2026.
Kebutuhan sapi potong biasanya meningkat signifikan menjelang hari raya kurban, sehingga pelaku usaha melakukan antisipasi sejak jauh hari.
“Kalau dari kami di BPS tidak ada masalah. Justru ini bisa membantu mengendalikan harga sapi hidup saat momen Idul Adha nanti,” ujar Agnes Widiastuti lagi.
Secara data, impor binatang hidup atau HS 01 sepanjang Januari–November 2025 menyumbang 5,76 persen dari total impor Kalimantan Tengah.
Angka tersebut jauh lebih kecil dibanding impor mesin dan pesawat mekanik yang mencapai 51,73 persen, serta bahan bakar mineral berupa aspal sebesar 33,74 persen.
Untuk kelompok mesin dan pesawat mekanik, barang yang diimpor meliputi mesin ekstraksi, freeze dryer, ketel uap, mesin lainnya, hingga mesin motor tempel. Sementara impor aspal berkaitan erat dengan kebutuhan pembangunan infrastruktur di wilayah ini.
Dari sisi negara asal, Malaysia masih menjadi pemasok utama impor Kalimantan Tengah dengan pangsa 52,38 persen, disusul Singapura sebesar 30,82 persen, dan Tiongkok 6,72 persen.
Meski kontribusi impor sapi tidak dominan, keberadaannya dinilai strategis untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga ternak di daerah.(TESTI PRISCILLA/R)









