BORNEONEWS, Sampit – Kecamatan Bukit Santuai tercatat sebagai wilayah dengan frekuensi banjir tertinggi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) selama tahun 2025. Penyebab utamanya adalah faktor cuaca dan kondisi geografis yang sebagian besar desa berada di bantaran sungai sehingga sangat rentan tergenang saat sungai meluap.
"Kondisi itu dipengaruhi cuaca dan geografis. Rata-rata desa berada di bantaran sungai, sehingga sangat rawan terendam saat sungai meluap,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, Multazam, Senin, 5 Januari 2026.
Berdasarkan data BPBD Kotim sepanjang 2025, tercatat 114 kejadian bencana yang telah ditangani dan selesai. Rinciannya yaitu banjir sebanyak 44 kejadian, cuaca ekstrem 26 kejadian, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 36 kejadian, serta operasi pencarian dan pertolongan sebanyak 8 kejadian.
Data rekapitulasi banjir per kecamatan tahun 2025 menunjukkan Kecamatan Bukit Santuai mengalami banjir terbanyak, yakni sebanyak 8 kali. Kecamatan lain dengan jumlah banjir signifikan antara lain Tualan Hulu 7 kali, Telaga Antang dan Mentaya Hilir Selatan masing-masing 5 kali, serta daerah lain seperti Cempaga Hulu, Parenggean, dan Baamang.
"Untuk wilayah utara yang meliputi Parenggean, Mentaya Hulu, Antang Kalang, Telaga Antang, Tualan Hulu, dan Bukit Santuai, banjir biasanya dipicu oleh tingginya curah hujan," ujarnya.
Lebih lanjut iya mengungkapkan untuk wilayah selatan seperti Pulau Hanaut, Teluk Sampit, Mentaya Hilir Selatan, dan Mentaya Hilir Utara, banjir sering terjadi ketika curah hujan tinggi bersamaan dengan pasang air laut.
Sebagai bagian dari upaya penanganan bencana, BPBD Kotim telah menyusun Rencana Kontingensi, yakni dokumen strategis untuk menghadapi situasi darurat berdasarkan skenario risiko sekaligus melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
“Tujuannya adalah menyelamatkan nyawa, melindungi aset, dan memastikan penanganan yang terintegrasi melalui pemetaan peran, sumber daya, serta alur koordinasi,” ungkap Multazam.
BPBD Kotim juga mendapat kehormatan sebagai salah satu dari enam kabupaten di Indonesia yang ditunjuk untuk melakukan digitalisasi Rencana Kontingensi pada tahun 2025. Selain itu, Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD aktif 24 jam sebagai pusat informasi, koordinasi, komunikasi, dan komando dalam penanganan bencana pra, saat, dan pasca kejadian.
Pencatatan digital ini dinilai penting untuk mendukung evaluasi dan kajian risiko bencana lokal secara akurat serta meningkatkan kemampuan penanggulangan bencana di Kabupaten Kotim secara berkelanjutan.
“Sejak 1 Januari sampai 31 Desember 2025, kami melakukan pencatatan seluruh aktivitas operasi penanggulangan bencana secara digital dan terdistribusi melalui website BPBD Kotawaringin Timur sebanyak 364 kali,” ujarnya. (DEVIANA/j)









