BORNEONEWS, Jakarta – Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mengusulkan agar Polri memanfaatkan teknik cell dump untuk mengungkap kasus teror yang menimpa aktivis dan pemengaruh media sosial, termasuk DJ Donny. Teknik tersebut dinilai dapat membantu aparat menelusuri jejak digital pelaku secara lebih akurat.
Anggota Kompolnas Mochammad Choirul Anam mengatakan, setiap tindakan teror umumnya meninggalkan rekam jejak nomor telepon atau sinyal digital di sekitar lokasi kejadian. Data tersebut dapat dianalisis melalui metode cell dump untuk mengidentifikasi pelaku.
“Pasti ada rekam jejak nomor digital di seputar itu sehingga bisa di-cell dump, sehingga kita bisa tahu orang itu siapa, alamatnya di mana,” kata Anam dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Senin, 5 Januari 2026.
Selain penelusuran data komunikasi, Anam juga menekankan pentingnya pendalaman rekaman kamera pengawas atau CCTV. Menurutnya, rekaman visual dapat membantu mengungkap identitas pelaku melalui pencocokan data kependudukan.
“Kalau kena CCTV, dia bisa kelihatan wajahnya, bisa dicek NIK-nya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Anam mengingatkan bahwa kebebasan berekspresi merupakan hak asasi setiap warga negara. Ia menilai perbedaan pendapat seharusnya disikapi dengan cara yang sehat, bukan melalui intimidasi atau teror.
“Kalau tidak sepakat dengan ekspresi seseorang, balaslah dengan ekspresi atau cara lain yang sah, agar ruang publik tetap sehat,” katanya.
Kasus teror ini mencuat setelah Polda Metro Jaya menerima laporan dari pemengaruh Ramon Dony Adam, yang dikenal dengan nama DJ Donny. Polisi menyatakan telah menerima laporan tersebut dan akan melakukan penyelidikan lebih lanjut.
DJ Donny melaporkan adanya teror di kediamannya yang terjadi pada Senin (29/12) dan kembali terulang pada Rabu (31/12) dini hari. Ia menyebut, teror pertama berupa pengiriman bangkai ayam ke rumahnya, disusul pelemparan benda berbahaya yang terekam kamera pengawas.
“Jadi, kemarin saya dapat teror, dikirim bangkai ayam ke rumah saya. Lalu semalam jam 3.00 WIB, di CCTV terekam orang melempar molotov ke rumah saya,” ujar Donny saat ditemui di Polda Metro Jaya, Rabu, 31 Desember 2025.
Menurutnya, tindakan tersebut tidak hanya merugikan dirinya secara pribadi, tetapi juga mengancam keselamatan keluarga dan lingkungan sekitar. Ia pun berharap aparat penegak hukum dapat segera mengungkap pelaku dan motif di balik teror tersebut.
Selain dua kejadian itu, Donny mengaku kerap menerima ancaman melalui sambungan telepon dan pesan di media sosial. Namun, ia menyatakan selama ini tidak terlalu menanggapi ancaman verbal tersebut.
“Teror telepon banyak, media sosial biasa saja. Selama ini saya tidak terlalu peduli,” katanya.
Terkait siapa pelaku dan kemungkinan adanya dalang di balik teror tersebut, DJ Donny mengaku belum dapat memastikan dan menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian untuk menanganinya.
ANTARA









