BORNEONEWS, Palangka Raya – Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Wilayah Kalimantan Tengah periode 2025-2029, Rensi mengungkapkan bahwa tindakan gantung diri umumnya dipicu oleh beban hidup yang terus menumpuk tanpa adanya saluran dukungan yang memadai.
Rensi menjelaskan bahwa secara psikologis, peristiwa gantung diri biasanya tidak terjadi secara mendadak.
Ia merupakan hasil dari tekanan hidup berkepanjangan yang menumpuk seiring waktu, hingga individu merasa tidak mampu mengatasinya lagi.
“Tidak ada yang tiba-tiba memutuskan untuk melakukan tindakan semacam itu; ada proses penumpukan tekanan yang tidak teratasi,” tambahnya, Selasa, 6 Januari 2026.
Beberapa faktor pemicu yang disebutkan Rensi antara lain masalah ekonomi, kesulitan pekerjaan, konflik dalam hubungan sosial, maupun rasa kesepian yang tidak tersalurkan.
Rensi menekankan bahwa setiap faktor ini, ketika tidak mendapatkan perhatian atau bantuan, dapat memperparah kondisi psikologis individu dan meningkatkan risiko tindakan bunuh diri.
HIMPSI Kalteng, under kepemimpinan Rensi, menekankan pentingnya membangun saluran dukungan yang mudah diakses oleh masyarakat.
Hal ini meliputi penyediaan konseling psikologis, pembentukan kelompok dukungan, serta sosialisasi tentang cara mengidentifikasi tanda-tanda bahaya pada diri sendiri atau orang terdekat.
“Kita perlu membuat masyarakat merasa nyaman untuk berbicara dan mencari bantuan tanpa rasa malu,” ujarnya.
Rensi menegaskan komitmen HIMPSI Kalteng untuk terus bekerja sama dengan pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan organisasi masyarakat untuk memperkuat sistem dukungan kesehatan mental.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut berperan dalam mencegah tindakan gantung diri dengan menjadi pendengar yang aktif dan mendorong orang yang mengalami kesulitan untuk mencari bantuan.
"Dengan kolaborasi ini, diharapkan risiko tindakan semacam itu dapat berkurang di Kalimantan Tengah," harapnya. (MARINI/R)









