SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – DPRD Kotawaringin Timur (Kotim) mengingatkan seluruh pemangku kepentingan akan bahaya masuknya paham radikalisme ke dunia pendidikan.

“Kami berharap Kementerian Agama selalu memonitoring kegiatan umat. Jangan sampai disalahgunakan oleh oknum yang tidak menginginkan negara kita damai,” ujar Anggota DPRD Kotim Zainuddin, Selasa, 6 Januari 2026.

Hal itu juga sempat ia utarakan saat peringatan Hari Amal Bakti ke-80 yang digelar di Kotim beberapa waktu lalu. 

Zainuddin menyinggung adanya kasus teror yang sempat terjadi di lingkungan sekolah di Jakarta beberapa waktu lalu, yang menjadi bukti bahwa radikalisme bisa menyusup hingga ke dunia pendidikan melalui berbagai celah, termasuk internet dan media sosial.

“Kita sempat mendengar adanya kejadian bom di SMA 72 Jakarta saat salat Jumat. Artinya, di lingkungan pendidikan pun sudah ada cikal bakal radikalisme yang masuk melalui internet dan sebagainya,” tambahnya.

Zainuddin berharap peristiwa tersebut menjadi peringatan bersama agar kejadian serupa tidak terulang, khususnya di wilayah Kotim dan Kalimantan Tengah secara umum.

Ia menekankan perlunya formulasi pendidikan yang lebih baik, berimbang, dan berorientasi pada nilai-nilai kebangsaan serta toleransi.

“Semoga kejadian itu menjadi yang terakhir dan menjadi peringatan bagi kita semua. Pendidikan harus diformulasikan dengan cara terbaik agar tidak menjadi pintu masuk paham radikal,” katanya.

Dalam konteks Kotim, Zainuddin menyebutkan bahwa sektor pendidikan di bawah naungan Kementerian Agama cukup luas. Di antaranya terdapat dua Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN), dua Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN), satu Madrasah Aliyah Negeri (MAN), serta puluhan lembaga pendidikan swasta.

“Secara keseluruhan ada sekitar 74 lembaga pendidikan, belum termasuk pondok pesantren, TPA, majelis taklim, hingga kegiatan kemasjidan. Ini tentu membutuhkan pengawasan bersama,” pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)