BORNEONEWS, Sampit - Kemajuan teknologi digital ibarat dua sisi mata pisau. Di satu sisi memberi kemudahan dan akses informasi tanpa batas, namun di sisi lain menyimpan ancaman serius bagi pembentukan karakter generasi muda. Keresahan inilah yang disuarakan Damang Mentaya Hilir Utara (MHU), Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), H Rusli, saat menyaksikan maraknya penggunaan gawai dan game online (gim daring) di kalangan anak-anak.
Dari sudut pandang adat Dayak, Rusli menilai perkembangan teknologi yang tidak diimbangi pengawasan justru membawa kemunduran perilaku. Anak-anak dinilai semakin jauh dari nilai-nilai adat, sopan santun, dan kebersamaan yang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat.
“Kalau kita melihat dari sudut pandang adat, kemajuan teknologi ini sangat riskan. Anak-anak kita bukannya semakin maju, tapi justru banyak yang mengalami kemunduran karena kecanduan gawai dan gim daring,” ujarnya, Selasa, 6 Januari 2026.
Menurut Rusli, persoalan mendasar terletak pada lemahnya peran pengawasan orang tua. Banyak anak yang belum mampu memilah informasi dan konten di internet, namun sudah diberikan kebebasan penuh menggunakan gawai. Kondisi ini membuat mereka rentan terpapar konten negatif dan perilaku menyimpang.
“Kami sering mengingatkan orang tua agar tidak lepas tangan. Memantau aktivitas anak saat bermain gim atau menggunakan gawai adalah langkah paling sederhana, tapi sangat penting,” katanya.
Keresahan terhadap dampak gim daring ini, lanjut Rusli, bukan hal baru. Di wilayah Mentaya Hilir Utara, ia menyebut sudah cukup lama terlihat perubahan perilaku anak-anak yang sulit dikontrol, lebih individualis, dan kurang peduli dengan lingkungan sekitar.
Melihat kondisi tersebut, Rusli berharap pemerintah daerah melalui instansi terkait dapat turun tangan secara lebih serius. Ia menilai perlu adanya sosialisasi masif tentang bahaya kecanduan gim daring, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah.
“Harus ada peran aktif pemerintah. Kami di MHU sudah mulai bergerak bersama kelembagaan adat, sekolah, dan pihak terkait untuk melakukan pengawasan dan pembinaan,” imbuhnya.
Ia tidak menampik perubahan zaman membuat pergeseran pola bermain anak tidak terelakkan. Permainan tradisional yang sarat nilai kebersamaan kini tergeser oleh gim daring yang serba instan dan individual.
Meski teknologi memiliki sisi positif, Rusli menilai dampak negatif akan lebih dominan jika tidak dibarengi lingkungan yang sehat dan pembinaan karakter yang kuat.
Rusli mengakui sejauh ini, anak-anak yang terpapar gim daring masih mengenal adat istiadat Dayak, namun minat untuk mempelajari dan melestarikannya kian menurun.
Lanjutnya, menjaga generasi muda dari dampak negatif digitalisasi bukan hanya tugas orang tua, tetapi tanggung jawab bersama. Keluarga, sekolah, lembaga adat, dan pemerintah harus berjalan seiring untuk membentengi anak-anak dengan nilai adat, budaya, dan agama.
“Kami berharap kemajuan digital tidak membuat anak-anak melupakan jati diri. Orang tua harus hadir, guru harus berperan, dan pemerintah bersama lembaga adat perlu mencari formula pembinaan yang tepat agar generasi muda kita tumbuh berkarakter,” pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)









