BORNEONEWS, Palangka Raya – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Faridawaty Darland Atjeh, mengajak Pemerintah Daerah (Pemda) untuk mengutamakan pengembangan pendidikan di wilayah pelosok sebagai upaya utama dalam menekan kasus pernikahan dini di provinsi ini.
Menurutnya, kurangnya akses pendidikan yang merata menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan anak-anak di daerah terpencil terpaksa menikah di usia dini.
Faridawaty menjelaskan bahwa di banyak wilayah pelosok Kalteng, fasilitas pendidikan masih belum memadai, bahkan terdapat beberapa daerah yang belum memiliki sekolah dasar atau menengah yang layak.
Kondisi ini membuat anak-anak kesulitan untuk menempuh pendidikan, sehingga akhirnya terpaksa berhenti sekolah dan terjebak dalam perkawinan dini yang tidak sesuai dengan usia.
"Tanpa akses pendidikan yang baik, masa depan anak-anak kita akan terancam," ujarnya, Rabu, 7 Januari 2026.
Selain memperbaiki infrastruktur pendidikan, ia juga menekankan pentingnya meningkatkan kualitas sumber daya manusia guru di daerah pelosok.
Menurut Faridawaty, guru yang berkualitas dan memiliki komitmen tinggi akan mampu memberikan pendidikan yang baik serta menjadi contoh bagi anak-anak agar termotivasi untuk melanjutkan studi.
Ia juga mengusulkan adanya program beasiswa khusus bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu di wilayah terpencil.
"Perkawinan dini bukan hanya masalah sosial, tetapi juga berdampak pada kemajuan daerah dan provinsi secara keseluruhan," jelas Faridawaty.
Ia menambahkan bahwa anak-anak yang menikah dini cenderung tidak dapat mengembangkan potensi diri secara optimal, sehingga berdampak pada kualitas sumber daya manusia di masa depan. Oleh karena itu, pengembangan pendidikan di pelosok harus menjadi prioritas utama pemerintah daerah.
Dalam hal ini, Faridawaty mengajak berbagai pihak termasuk pemerintah kabupaten/kota se-Kalteng, dinas pendidikan provinsi, serta organisasi masyarakat untuk bekerja sama dalam memperluas akses pendidikan di wilayah terpencil.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain membangun sekolah baru di daerah yang belum memiliki, menyediakan transportasi untuk anak-anak yang tinggal jauh dari sekolah, serta melakukan sosialisasi kepada orang tua tentang pentingnya pendidikan dan bahaya perkawinan dini.
Ia berharap dengan perhatian serius terhadap pengembangan pendidikan di pelosok, kasus perkawinan dini di Kalteng dapat berkurang secara signifikan.
"Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak, tanpa memandang tempat tinggal mereka. Mari kita bergerak bersama untuk melindungi masa depan anak-anak kita dengan memperkuat pendidikan di pelosok," pungkas Faridawaty. (MARINI/H)









