BORNEONEWS, Sampit - Di tengah arus modernisasi yang kian deras, masyarakat Dayak Kalimantan Tengah (Kalteng) masih setia menjaga warisan leluhur. Salah satu tradisi yang terus dirawat adalah malamang, proses memasak makanan khas Dayak berupa lamang. Tradisi ini kembali hidup dan menjadi pusat perhatian dalam Festival Budaya Habaring Hurung (FBHH) yang menjadi rangkaian HUT ke-73 Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Di salah satu sudut Stadion 29 Nopember Sampit, bambu-bambu berukuran 40 cm disusun miring di atas kayu-kayu yang membara. Itu menjadi saksi bagaimana tradisi lama masih dijalankan dengan penuh ketelatenan. Di sanalah, Yanto, peserta FBHH asal Kecamatan Seranau, bersama timnya mengolah lamang dengan cara yang nyaris tak berubah sejak dulu.
"Lamang adalah makanan khas Dayak Kalteng, berupa nasi ketan yang dimasak menggunakan bambu. Beras ketan dicampur santan dan garam, kemudian dimasukkan ke dalam bambu yang telah dilapisi daun pisang," ujar Yanto, Rabu, 7 Januari 2026.
Proses memasak lamang bukan perkara singkat. Dibutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga jam hingga ketan matang sempurna. Api pun tak boleh sembarangan. Terlalu besar, bambu bisa hangus dan merusak rasa. Terlalu kecil, lamang tak akan matang merata.
"Saat memasak lamang, bara api harus pas. Kalau kebesaran justru bambunya yang gosong, dan hasilnya tidak bagus," tambahnya.
Bagi masyarakat Dayak, malamang bukan sekadar urusan rasa. Lebih dari itu, tradisi ini sarat makna. Malamang adalah simbol kebersamaan, gotong royong, dan kekeluargaan. Nilai-nilai inilah yang terasa kuat dalam lomba malamang FBHH, yang diikuti perwakilan dari lima kecamatan di Kotim.
“Malamang atau membuat lamang adalah tradisi masyarakat adat Dayak Kalteng. Biasanya dibuat saat ada upacara atau ritual adat, dan lamang hampir selalu ada,” jelas Yanto.
Sayangnya, tradisi ini mulai jarang ditemui di wilayah perkotaan. Kesibukan dan perubahan gaya hidup membuat malamang perlahan tersisih. Namun di kecamatan-kecamatan pelosok, tradisi ini masih dijaga dan dijalankan secara rutin, terutama saat upacara adat digelar.
"Untuk di wilayah perkotaan, malamang sudah sangat jarang dilakukan. Tapi di kecamatan-kecamatan pelosok warga di sana masih melaksanakan dan tidak meninggalkan tradisi itu. Karena untuk upacara atau ritual adat cukup sering diadakan di sana," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)









