SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya. Hal tersebut tercermin dari pelaksanaan perdana Pameran Dekranasda bertajuk Gelora Kriya Dekranasda Kotim 2026 yang digelar di Gedung Futsal Indoor, Sampit.

Bupati Kotim Halikinnor menyampaikan, kehadiran Gelora Kriya Dekranasda Kotim 2026 memberikan ruang strategis bagi para pengrajin dan seniman lokal untuk menampilkan karya terbaiknya kepada masyarakat luas.

“Terdapat 14 booth komunitas pengrajin dan seniman dalam Gelora Kriya Dekranas Kotim 2026, yang telah memberi warna artistik sekaligus ruang gerak bagi tumbuh kembangnya ekonomi kreatif dan inovasi yang berakar dari budaya,” ujar Halikinnor, Rabu malam, 7 Januari 2026.

Hal itu ia sampaikan saat membuka kegiatan Sampit Expo 2026, gelora kriya dekranasda kotim, dan festival budaya habaring hurung di Stadion 29 Nopember Sampit.

Gelora Kriya Dekranasda Kotim menjadi salah satu rangkaian peringatan HUT ke-73 Kotim. Pameran ini tidak hanya menjadi ajang promosi produk kerajinan daerah, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan regenerasi pelaku ekonomi kreatif di Kotim. Berbagai perlombaan kerajinan turut digelar untuk menumbuhkan kreativitas dan kecintaan terhadap budaya lokal.

Pada Gelora Kriya Dekranasda Kotim 2026, sejumlah lomba diadakan, di antaranya lomba menjawet, lomba ecoprint, serta lomba mewarnai. Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari kecamatan-kecamatan hingga sekolah-sekolah se-Kabupaten Kotawaringin Timur.

Ia berharap Gelora Kriya Dekranasda Kotim dapat menjadi agenda rutin yang terus dikembangkan. Selain memperkuat identitas budaya daerah, kegiatan ini juga diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk kerajinan lokal serta mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di Kabupaten Kotim.

Salah satu peserta pameran, Syahrifendy, yang tergabung dalam komunitas pengrajin dan pecinta Mandau, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, Gelora Kriya Dekranasda menjadi wadah penting untuk memperkenalkan dan melestarikan budaya Dayak, khususnya mandau, yang dirawat secara turun-temurun.

“Melalui kegiatan ini, kami bisa mengenalkan mandau sebagai salah satu warisan budaya Dayak yang memiliki nilai sejarah dan filosofi tinggi. Ini sangat positif untuk pelestarian budaya,” kata Syahrifendy. (DEWI PATMALASARI/Y)