PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) mencatat angka kematian ibu dan bayi sepanjang tahun 2025 masih berada di bawah target nasional, meski risiko kematian tetap menjadi perhatian serius pemerintah daerah.

Data tersebut dihimpun melalui aplikasi Maternal and Perinatal Death Notification (MPDN) yang mencatat seluruh laporan kematian ibu dan bayi dari fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah Kabupaten Kobar berdasarkan alamat domisili penduduk.

Kepala Dinkes Kobar melalui Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, I Ketut Djabal Wahjunirahman, menyampaikan bahwa capaian ini patut disyukuri, namun tidak boleh membuat lengah.

“Secara umum angkanya memang lebih rendah dari target nasional, tapi risiko kematian ibu dan bayi itu masih ada dan tetap harus kita waspadai bersama,” ujarnya, Kamis, 8 Januari 2026.

Sepanjang Januari hingga Desember 2025, tercatat sebanyak 3 kasus kematian ibu dari total 4.054 kelahiran hidup. Dengan demikian, Angka Kematian Ibu (AKI) di Kobar berada pada level 74 per 100.000 kelahiran hidup, lebih rendah dibandingkan target nasional sebesar 122 per 100.000 kelahiran hidup.

I Ketut Djabal Wahjunirahman menjelaskan, bahwa mayoritas kasus kematian ibu terjadi pada masa nifas atau dalam rentang 42 hari setelah persalinan.

“Fase paling rentan itu justru setelah melahirkan, sehingga pemantauan kesehatan ibu pasca persalinan harus benar-benar diperhatikan,” katanya.

Beberapa faktor penyebab kematian ibu antara lain eklamsia, infeksi masa nifas, serta perdarahan pascapersalinan.

“Penyebabnya beragam, tapi yang paling sering adalah eklamsia, infeksi nifas, dan perdarahan,” ungkapnya.

Sementara itu, jumlah kematian bayi usia 0 hingga 1 tahun tercatat sebanyak 30 kasus atau setara 7,4 per 1.000 kelahiran hidup, juga berada di bawah target nasional yang ditetapkan sebesar 12 per 1.000 kelahiran hidup.

Penyebab kematian bayi didominasi oleh kondisi berat badan lahir rendah (BBLR) di bawah 2.500 gram serta kelahiran prematur.

“Kasus yang paling menonjol itu bayi lahir dengan berat badan rendah dan kelahiran prematur,” jelas I Ketut Djabal Wahjunirahman.

Ia menambahkan bahwa risiko kematian bayi juga meningkat akibat kurangnya deteksi dini penyakit selama kehamilan, minimnya pemeriksaan rutin ibu hamil, serta faktor kehamilan berisiko seperti usia terlalu muda atau di atas 35 tahun, jumlah anak yang banyak, dan jarak kehamilan yang terlalu dekat.

“Karena itu, kami terus mengimbau ibu hamil untuk rutin memeriksakan kehamilan ke fasilitas kesehatan,” pungkasnya. (NURITA/H)