SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Gema kayu berputar dari sebuah gasing masih terdengar di Kecamatan Telaga Antang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Permainan tradisional bernama bagasing itu bukan sekadar hiburan, melainkan warisan leluhur Suku Dayak yang sarat makna dan filosofi kehidupan.

Camat Telaga Antang Joko Ariyadi Setiawan menuturkan, tradisi bagasing masih dijaga oleh masyarakat setempat karena mayoritas desa di wilayahnya merupakan desa pribumi Dayak. Meski tidak dimainkan setiap waktu, bagasing biasanya hadir pada musim tertentu, khususnya menjelang panen padi.

“Di Kecamatan Telaga Antang karena mayoritas itu desa pribumi, bagasing ini masih dilakukan, tetapi pada musim tertentu. Seperti kegiatan bagasing dan balogo ini dilakukan saat mendekati panen padi,” ujar Joko, Kamis, 8 Januari 2026.

Ia mengatakan, tradisi ini berangkat dari pesan nenek moyang Dayak. Bentuk gasing menjadi simbol harapan agar padi berbuah penuh, tidak kempes, dan terhindar dari serangan hama.

“Bahasa nenek moyang kami supaya padi berbuah seperti buah gasing, tidak ada yang kempes atau tidak ada yang termakan hama, sehingga buahnya bagus semua,” katanya.

Menariknya, bagasing di Telaga Antang kini justru banyak dimainkan oleh anak-anak. Hal itu menjadi bukti bahwa permainan tradisional ini masih hidup di tengah generasi muda.

“Yang di Kecamatan Telaga Antang mayoritas anak-anak yang masih memainkan itu. Maka dari itu kami dari kecamatan terus memotivasi masyarakat agar terus melestarikan budaya permainan tradisional Dayak,” tambahnya.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui partisipasi aktif Kecamatan Telaga Antang dalam Festival Budaya Habaring Hurung yang digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotim bertepatan dengan HUT ke-73 Kotim. Dalam ajang itu, Telaga Antang mengirimkan peserta untuk berbagai cabang lomba budaya.

“Khusus untuk permainan bagasing, kami sebagai peserta mampu mengirim satu pasang laki-laki dan satu pasang perempuan. Tetapi secara keseluruhan, kita mengirim hampir semua cabang lomba, bagasing, balogo, manyumpit, lawang sekepeng dan karungut,” ucapnya. 

Sebagai putra asli Dayak, Joko menegaskan pelestarian kearifan lokal menjadi prioritasnya sebagai camat. Ia tak ingin identitas budaya Dayak terkikis oleh zaman.

“Saya selaku Camat Telaga Antang karena saya asli orang Dayak, saya memprioritaskan masyarakat Dayak untuk membudayakan kearifan lokal yang ada di Kecamatan Telaga Antang. Salah satunya balogo, bagasing dan manyumpit karena ini ciri khas orang Dayak. Jangan sampai hilang,” tegasnya.

Ia pun menyampaikan apresiasi kepada panitia Festival Budaya Habaring Hurung yang telah memberi ruang bagi daerah-daerah untuk menampilkan kekayaan budaya lokal.

“Kami berterima kasih kepada panitia Festival Budaya Habaring Hurung telah memberikan kesempatan pada kami sehingga kami bisa mengikuti kegiatan ini,” ucapnya.

Ke depan, Joko berharap festival budaya semacam ini bisa menjadi agenda rutin, bahkan lebih sering digelar. Baginya, kemenangan bukanlah tujuan utama, namun yang lebih penting ialah bagaimana bersama-sama merawat budaya. 

“Semoga ke depan kegiatan ini dapat diagendakan setiap tahun sehingga kebudayaan Kalteng bisa terangkat kembali. Bahkan tidak hanya setahun sekali, bisa enam bulan sekali dilakukan. Kami tidak menargetkan juara, tetapi yang terpenting adalah berpartisipasi agar budaya-budaya ini bisa tetap eksis dari kemajuan zaman,” pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)