JAKARTA –

BORNEONEWS, Sampit - Di balik kilau bilah besi yang berusia ratusan tahun, tersimpan kisah tentang identitas, persatuan, dan kesetiaan pada warisan leluhur. Mandau, senjata tradisional suku Dayak, bukan sekadar benda pusaka melainkan penanda jati diri yang hidup dari generasi ke generasi.

Di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), sekelompok orang dengan cinta yang sama berkumpul untuk satu tujuan yakni menjaga Mandau agar tetap bernyawa di tengah zaman yang terus berubah.

Komunitas Pecinta Mandau Kotim lahir sekitar awal tahun 2000-an. Berangkat dari kegelisahan akan mulai pudarnya pengetahuan generasi muda terhadap pusaka leluhur, komunitas ini menghimpun para pengrajin Mandau mulai dari pengukir gagang, penempa bilah, hingga penganyam sarung Mandau yang tersebar di Kotim. Ternyata, di daerah ini tersimpan begitu banyak tangan-tangan terampil yang karyanya tak kalah indah dan sarat makna.

Kini, hasil koleksi komunitas pecinta Mandau Kotim itu dapat disaksikan di Gelora Kriya Dekranasda Kotim, Sampit Expo yang digelar dalam rangka peringatan HUT ke-73 Kotim.

Deretan Mandau yang dipamerkan bukan hanya berasal dari Kalimantan Tengah, tetapi juga dari Kalimantan Selatan, Timur, Barat, hingga Utara. Namun, Mandau Dayak Ngaju dari Kalimantan Tengah menjadi koleksi yang paling banyak ia miliki. 

"Ada ciri khas yang spesifik yang membedakan antara mandau Kalimantan baik dari bilah, gagang atau sarungnya ada ciri masing-masing. Setiap Mandau dari Kalimantan pasti ada nilai filosofis tersendiri empu-empu yang membuat memberi makna tersendiri dari hasil karya mereka," kata Syahrifendy, Jumat, 9 Januari 2026.

Dirinya membeberkan salah satu ciri terdapat pada gagang Mandau Kalimantan Tengah yakni tali rantai yang mengikat dan menyambung. Bagi Syahrifendy, salah satu penggerak Komunitas Pecinta Mandau Kotim, rantai itu bukan sekadar ornamen. Ia adalah simbol persatuan, lahir dari semangat perdamaian Perjanjian Tumbang Anoi, ketika suku-suku Dayak sepakat mengakhiri permusuhan dan hidup berdampingan dalam harmoni.

Setiap Mandau memiliki filosofinya sendiri. Para empu yang menempa bilahnya tak sekadar membentuk besi, tetapi menanamkan nilai dan makna. Karena itu, Mandau tidak diperlakukan sebagai barang dagangan. Di kalangan pecinta Mandau, tidak dikenal istilah jual beli. Yang ada adalah hibah dan ahli rawat, sebuah amanah untuk menjaga pusaka agar tetap lestari.

Sebagian Mandau yang dirawat Syahrifendy berusia lebih dari 50 tahun, bahkan ada yang diperkirakan mencapai 250 tahun, telah melewati enam hingga tujuh generasi. Mandau tertua itu berasal dari garis keturunan keluarganya sendiri, warisan nenek moyang yang berasal dari Sampit, Katingan, hingga Kalimantan Barat. 

Dirinya pun tak sembarangan merima amanat merawat Mandau. Setiap kali menerima Mandau, sejarahnya selalu ditelusuri siapa pemiliknya, dari generasi ke berapa, dan bagaimana pusaka itu dijaga selama ini.

Lanjutnya, merawat Mandau bukan perkara mudah. Karat menjadi musuh utama bilah besi. Dengan minyak khusus dan ketelatenan, Mandau dibersihkan setidaknya setahun sekali. Ada bilah yang cepat berkarat, ada pula yang seolah kuat menua bersama waktu. Semua dirawat dengan kesabaran, seperti merawat ingatan kolektif sebuah suku.

Hingga kini, Komunitas Pecinta Mandau Kotim memiliki sekitar 125 koleksi Mandau, dengan anggota sekitar 35 orang yang terdiri dari pengrajin dan pemilik pusaka. Syahrifendy sendiri telah menekuni dunia Mandau selama kurang lebih 24 tahun, sebuah perjalanan panjang yang berangkat dari hobi dan panggilan jiwa melestarikan budaya.

Baginya, Mandau adalah identitas orang Dayak. Ketika orang melihat Mandau, mereka tahu itulah Dayak. Itulah sebabnya komunitas ini aktif mengikuti pameran dan kegiatan budaya, agar masyarakat, terutama generasi muda, tidak hanya mendengar cerita tentang Mandau, tetapi melihat, mengenal, dan memahami maknanya secara utuh.

Di tengah Mandau asli yang kini sulit ditemukan, pameran menjadi ruang edukasi sekaligus pengingat. Bahwa budaya bukan hanya masa lalu, melainkan warisan hidup yang perlu dijaga bersama. Menjaga Mandau berarti menjaga jati diri, menjaga persatuan, dan menjaga cerita panjang leluhur agar tak tergerus zaman.

"Kami harap event seperti ini sering diadakan pemerintah. Untuk pameran ini juga menjadi edukasi bagi generasi muda bagaimana Mandau itu. karena selama ini hanya mendengar cerita Mandau tetapi bagaimana yang benar-benar Mandau mereka belum tahu. Karena Mandau ini termasuk benda yang sekarang sudah langka, sulit mendapatkannya. Kalau saya ini mengoleksinya sudah lama jadi banyak," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/Y)