PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Sebuah pencapaian ilmiah penting berhasil dicapai oleh kolaborasi antara IPB University, PT Smart Tbk., dan PPKS melalui pendanaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP.

Mereka berhasil menyusun runutan genom lengkap dari dua sumber genetik sawit yang selama ini menjadi misteri: Dura liar Kamerun (EgDCM) dan Deli Dura dari Kebun Raya Bogor (E?DBG). Penelitian ini telah dipublikasikan di jurnal DNA Research dan menjadi sorotan dunia ilmiah.

Sawit merupakan komoditas strategis yang menyuplai hampir 40 persen minyak nabati dunia. Namun, sejarah domestikasi sawit yang hanya berasal dari empat bibit di abad ke-19 menyebabkan penyempitan genetik. Hal ini membuat tanaman sawit modern rentan terhadap berbagai tekanan biotik dan abiotik, serta menghambat laju inovasi dalam pemuliaan.

Dengan teknologi sekuensing canggih seperti Oxford Nanopore dan H?C scaffolding, para peneliti berhasil mengungkap lebih dari 70.000 gen dari dua genom tersebut. Tak hanya itu, lebih dari 1.700 gen ketahanan ditemukan pada masing-masing genom, membuka peluang baru untuk memperkuat pertahanan tanaman terhadap penyakit dan stres lingkungan.

Dr. Diny Dinarti dari IPB University menekankan pentingnya konservasi sumber daya genetik ini.

“Sawit liar dan leluhur menyimpan kekayaan genetik yang tak ternilai. Pelestarian mereka bukan hanya soal warisan, tapi juga kunci untuk pertanian masa depan yang tangguh dan berkelanjutan,” ujarnya dalam rilis BPDP pada Jumat, 9 Januari 2026.

Temuan ini juga membuka jalan bagi peningkatan hasil panen. Akses terhadap alel yang hilang memungkinkan pengembangan varietas dengan kandungan minyak lebih tinggi dan pertumbuhan mesokarp yang lebih baik. Dalam konteks perubahan iklim, wawasan ini sangat penting untuk menciptakan tanaman yang lebih adaptif terhadap kekeringan dan suhu ekstrem.

Dengan pendekatan seleksi berbasis penanda dan pemuliaan genomik, hasil riset ini akan mempercepat lahirnya varietas sawit generasi baru. Ini bukan hanya kemenangan bagi sains, tetapi juga bagi petani, industri, dan masa depan pertanian berkelanjutan Indonesia. (TESTI PRISCILLA/H)