BORNEONEWS, Palangka Raya - Dua dekade sudah Siti Ngaisah, perempuan asal Wonosobo, Jawa Tengah, mengabdikan dirinya sebagai pengasuh anak di Tempat Penitipan Anak atau TPA Harapan Bunda PT Mustika Sembuluh – I, Wilmar Group, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Sejak 2005, ia menjadi sosok yang tak tergantikan bagi ratusan anak yang tumbuh di lingkungan perkebunan sawit.
Kisah hidup Siti penuh keteguhan. Ia hijrah mengikuti suaminya yang bekerja di perusahaan sawit baru. Namun, tak lama kemudian sang suami meninggal dunia. Dengan tiga anak yang harus dibesarkan, Siti memilih bertahan dan bekerja di TPA. Kini, ketiga anaknya telah dewasa dan ikut bekerja di perusahaan yang sama, menjadi bukti perjuangan seorang ibu tunggal yang tak pernah menyerah.
Dalam kesehariannya, Siti selalu menyambut anak-anak dengan senyum dan sapaan hangat. Baginya, pekerjaan ini bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hati.
“Rasanya saya bukan lagi bekerja, tapi mengasuh anak sendiri. Saya ingin tetap bekerja selama masih kuat,” ungkap perempuan berusia 55 tahun itu dalam rilis pada Jumat, 9 Januari 2026.
Selama 20 tahun, ia telah menyaksikan anak-anak yang diasuhnya tumbuh dewasa. Bahkan, ada yang kini bekerja di perusahaan tempat ia mengabdi. Hubungan emosional yang terjalin membuat Siti merasa memiliki keluarga besar di luar darah dagingnya sendiri.
TPA yang dulu hanya berupa ruangan sederhana kini berkembang menjadi fasilitas lengkap dengan ruang bermain, alat edukatif, dan tenaga pengasuh terlatih. Perubahan itu membuat Siti semakin bangga, karena ia turut menjadi bagian dari perjalanan panjang yang memberi arti bagi banyak keluarga di perkebunan.
Kisah Siti Ngaisah adalah potret ketulusan seorang perempuan yang menjadikan pekerjaannya sebagai ladang kasih. Ia bukan hanya pengasuh, melainkan ibu kedua bagi anak-anak yang tumbuh di tengah perkebunan sawit, menjadikan TPA sebagai rumah kedua penuh kehangatan. (TESTI PRISCILLA/j)









