SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengungkapkan bahwa luas perkebunan kelapa sawit di wilayah ini saat ini hampir mencapai sepertiga dari total luas area kabupaten. Data ini menunjukkan dominasi sektor perkebunan kelapa sawit dalam tata ruang wilayah Kotim.

“Hampir sepertiga wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur merupakan kebun kelapa sawit,” kata Kepala BPS Kotawaringin Timur, Eddy Surahman, Jumat, 9 Januari 2026.

Ia menegaskan bahwa luas tersebut mencakup perkebunan besar negara, perkebunan swasta, serta perkebunan rakyat. Data yang digunakan bersumber dari Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah dan termuat dalam publikasi Kalimantan Tengah dalam Angka 2025.

Dijelaskan bahwa total luas wilayah Kotim mencapai 15.543,38 km², sedangkan luas area tanaman kelapa sawit telah mencapai 4.621,26 km² atau sekitar 29,7 persen dari total wilayah pada akhir 2024.

“Luas kebun kelapa sawit di Kotawaringin Timur saat ini bahkan sudah lebih luas dibanding wilayah Kota Palangka Raya yang hanya 2.848,70 km²,” ungkap Eddy.

Secara provinsi, sekitar 23,9 persen dari areal perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah berada di Kabupaten Kotawaringin Timur, menempatkan Kotim sebagai kabupaten dengan perkebunan kelapa sawit terluas di provinsi ini.

Lima kabupaten dengan areal perkebunan kelapa sawit terluas di Kalimantan Tengah pada 2024 yaitu Kotawaringin Timur seluas 4.621,26 km², Seruyan 4.425,47 km², Kotawaringin Barat 2.776,84 km², Lamandau 1.474,56 km², dan Kapuas 1.346,33 km².

Perkembangan luas area perkebunan kelapa sawit di Kotim dari tahun 2020 hingga 2024 menunjukkan tren pertumbuhan yang stabil. Pada 2020 luasnya tercatat 4.594,63 km², meningkat secara bertahap menjadi 4.600,31 km² (2021), 4.604,12 km² (2022), 4.613,44 km² (2023), dan mencapai 4.621,26 km² pada 2024.

“Selama lima tahun terakhir luas areal perkebunan kelapa sawit mengalami peningkatan meskipun pertumbuhannya tampak relatif moderat setiap tahun, namun konsistensinya menunjukkan bahwa sektor sawit terus berkembang tanpa kontraksi area,” tambah Eddy. (DEVIANA/j)