SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Yolanda Lonita Fenisia mengatakan bukan pelajar jenjang pendidikan dasar yang terkait dugaan paparan paham ekstremisme.

“Informasi yang terpapar itu sebenarnya anak SMA bukan anak dari pendidikan dasar. Tapi kita tetap berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi bagaimana untuk pengelolaannya ke depan ke depan,” ujar Yolanda, Jumat, 9 Januari 2026.

Saat itu, Disdik Kotim bertemu Polres dan Densus 88, namun pihak Disdik tidak melakukan komunikasi langsung dengan anak. Namun ia menyebut, proses penanganan terhadap anak yang terindikasi tersebut saat ini masih dalam tahap pembinaan. 

“Saat itu kita memang ada pertemuan dengan Polres dan Densus 88. Jadi prosesnya mereka yang langsung berkomunikasi dengan anak-anak, dari dinas pendidikan tidak terlibat langsung. Anak itu masih dalam posisi di bina,” ucapnya. 

Meski bukan dari jenjang SD, Disdik Kotim tetap mengambil langkah antisipatif dengan menyiapkan program edukasi pencegahan ekstremisme di lingkungan sekolah.

Salah satunya melalui kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang akan melibatkan Polres Kotim serta Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A2KB).

“Pada proses MPLS nanti, kami akan bekerja sama dengan Polres dan DP3A2KB untuk melakukan sosialisasi. Peran kami adalah berkolaborasi dengan mitra untuk mengedukasi anak-anak tentang bahaya ekstremisme," katanya. 

Menurutnya, peran sekolah dalam pengawasan sudah berjalan, terutama dengan pembatasan penggunaan gawai pada jam pembelajaran. Untuk siswa sekolah dasar, penggunaan gadget tidak diperbolehkan kecuali untuk kepentingan tertentu yang berkaitan langsung dengan proses belajar mengajar, seperti untuk media pembelajaran dan ujian. 

Yolanda menekankan peran keluarga sangat penting dalam mengawasi penggunaan gadget oleh anak-anak di luar sekolah. Kolaborasi antara sekolah dan orang tua dinilai menjadi kunci utama dalam mencegah dampak negatif teknologi digital.

“Kita sebagai orang tua harus memperhatikan bagaimana memanajemen atau mengelola penggunaan gadget terhadap anak-anak, termasuk memperhatikan permainan apa yang mereka akses. Gadget itu sebenarnya banyak manfaatnya, tergantung bagaimana anak dan orang tua menentukan apa yang boleh dan tidak boleh diakses,” pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)